Kampiunnews | Jakarta – Dua tokoh sepak bola berdarah Maluku asal Belanda, Berth Pentury dan Simon Tahamata, bertemu kembali di Jakarta dalam misi besar pengembangan talenta muda Indonesia. Keduanya terlihat menghadiri sesi latihan Timnas Indonesia di Stadion Madya, menjelang laga penting kontra China pada Kamis, 5 Juni 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Simon Tahamata, legenda sepak bola Belanda yang kini menjabat sebagai Head of Talent Scouting PSSI, mengundang perhatian besar sejak tiba di Indonesia. Kehadiran Berth Pentury, yang saat ini menjadi technical advisor SSB/Academy Bintang Timur Atambua milik Fary Francis, turut memperkuat sinyal bahwa PSSI tengah memperkuat lini pencarian bakat dari akar rumput.
“Saya baru tiba dari Atambua kemarin. Coach Indra (Syafri) minta saya ke Jakarta untuk bertemu Simon,” ujar Berth Pentury yang akrab disapa “Opa” oleh komunitas bola di NTT.
Kedekatan antara Berth dan Simon sudah terjalin sejak keduanya aktif sebagai pemain profesional di Belanda. Usai pensiun, keduanya memilih jalur pembinaan usia muda, dan kini reuni mereka di Indonesia membawa harapan baru bagi sistem pembinaan pemain muda nasional.
“Kami sudah lama kenal sejak sama-sama aktif bermain, dan kemudian sama-sama kembali ke akar untuk membina generasi baru,” tambah Berth dengan Bahasa Indonesia yang sangat fasih.
Saat ditanya soal kemungkinan dirinya bergabung secara resmi untuk mendampingi Simon dalam program scouting nasional PSSI, Berth mengaku belum bisa memberi jawaban pasti.
“Hari ini saya dihubungi coach Indra Syafri untuk rapat bertiga dengan Simon. Apakah setelah Kongres PSSI saya akan bertemu Pak Erick Thohir, saya sendiri belum tahu pasti,” katanya.
Berth Pentury, pelatih berdarah Ambon yang telah menetap selama 14 tahun di Indonesia dan memiliki lisensi UEFA, dikenal luas di NTT sebagai sosok sentral dalam pengembangan pemain muda potensial, terutama di perbatasan negara Indonesia – Timor Leste.
Harapan untuk Pembinaan Berkelanjutan
Baik Berth maupun Simon meyakini bahwa masa depan sepak bola Indonesia sangat bergantung pada kualitas pembinaan usia dini yang berkelanjutan, merata, dan berbasis sistem.
“Momentum ini harus jadi titik balik. Semangat pembinaan tidak boleh hanya bergantung pada event besar, tapi harus dibangun setiap hari,” ungkap Berth.
Kehadiran dua tokoh sepak bola Belanda-Maluku ini di Jakarta menjadi simbol penting bagi harapan baru pembinaan sepak bola Indonesia dari akar rumput hingga ke tim nasional.
Berth Pentury memberikan pandangan yang realistis tentang peluang Timnas Indonesia dalam menghadapi China dan Jepang. Ia menilai laga melawan China sulit diprediksi karena sangat bergantung pada strategi lawan. Meski begitu, menurutnya Indonesia tetap punya peluang menang.
“Pertandingan besok sulit ditebak, tergantung pendekatan strategi lawan. Tapi Indonesia masih punya peluang menang,” ujar Berth Pentury.
Ia juga menyoroti laga melawan Jepang sebagai peluang penting. Jepang yang sudah lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 kemungkinan besar akan menurunkan pemain pelapis, dan ini bisa menjadi keuntungan bagi Indonesia untuk meraih tiga poin krusial atau minimal kita dapat curi satu poin di Japang nanti.






