Kampiunnews | Rote – Mari sejenak kita bertandang ke pulau paling selatan Indonesia, Rote, menikmati sepak bola di Nusa Tenggara Timur (NTT) Piala El Tari Memorial Cup (ETMC) /Kualifikasi Liga 3.
Inilah rangkaian Eltari Memorial Cup ke-32 tahun 20023 yang berlangsung sejak 10 Agustus 2023. Dari 27 kesebelasan yang mewakili klub-klub dari 21 kabupaten da 1 kota madya di provinsi tersebut.
Saat ini pertandingan Liga 3 sudah memasiki semi final yang ditentukan pada penyisihan Senin (28/8). Empat klub yang siap bertarung ke laga semia final adalah PSN Ngada, Perserond Rote Ndao, Bintang Timur (BeTA) Atambua dan Biru Muda Perkasa Flores Timur (BMP Flotim).
Kendati terseok di awal, PSN Ngada yang memiliki mental juara berhasil berlangkah jauh. Perserond Rote Ndao juga tampil meyakinkan karena diuntungkan sebagai klub tuan rumah.
Yang agak mengejutkan adalah BMP Flotim, klub pendatang baru dari Flores Timur yang berhasil mengalahkan klub tangguh dari Kabupaten Alor dengan skor 2-1. Satunya lagi adalah kesebelasan Bintang Timur dari Kota Atambua-Belu.
Siapakah yang akan menjadi juara pada turnamen Liga 3 untuk provinsi Nusa Tenggara Timur? Tentu saja tak ada yang bisa membuat prediksi secara tepat. Yang pasti keempat kesebelasan milikili peluang sama. Apalagi, memang tak ada klub yang demikian menonjol sehingga penikmat bola di Flobamora dengan mudah menjagokan sebuah klub saja..
Namun, bukan soal siapa yang menjadi kampiun kali ini. Dari empat klub, kami ingin memberikan catatan pada Bintang Timur, klub berasal Kabupaten Belu. Bintang Timur akhirnya berhasil menumbangkan klub Ikan Paus Persebata Lembata dengan skor meyakinkan 2-0.
Menarik adalah pertandingan pada Jumat, 25 Agustus ketika, Bintang Timur harus berhadapan dengan tetangganya di Pulau Timor Perss Soe di babak perempatan final.
Saat itu, Bintang Timur mengalahkan Perss Soe dengan kedudukan 2-0. Dua gol itu diciptakan oleh Alberto Soares dan Erick Kaba. Pertandingan itu kemudian membuat penikmat sepak bola di NTT mulai berkenalan dengan seroang anak muda berbakat bernama Erick.
Usai menjebol gawang daerah asalnya, usai bertanding Erick menghampiri pemain dan official Perss Soe sambil menangis. Sikap Erick telah memberikan contoh yang baik, menang tidak sombong, tetap menghormati lawandan menunjukkan empaty apa yang dirasakan lawan yang juga adalah saudara sekampung.
Terlepas dari itu Erick telah mengajarkan kepada kita tentang professional dan kecintaannya akan daerah asalnya. Walaupun dirinya telah berlatih di Soe bersama Perss Soe, tapi sebagai kecintaanya terhadap BeTA Atanbua yang telah membentunya, dengan berat hati dia harus melupakan daerahnya.
“Pemain yang rendah hati, menang tak jumawa. Sukses buat adik Erick yang telah mengajarkan value dari sepak bola,” ujar Serena Francis sang manejer BeTA atambua.
Sebagi pemain dari kesebelasan Atambua, Erick seperti semua yang lain adalah anak asuh sekolah bola yang bernama Akademi Bintang Timur Atambua (BeTA). Erick adalah salah satu yang menonjol selain bebrapa sosok lain seperti Alberto, Crespo, Rifan dan Tino.
Tampak bahwa besutan sebuah sekolah bola membuat penampilan beberapa pemain ini berbeda dengan kebanyakan pemain-pemain lain di Liga 3 ini yang mengandalkan bakat alam sebagai orang NTT.
Secara teknis, dengan kondisi lapangan yang di bawah standar, sebagai sebuah kesebelasan yang dibina oleh sebuah Sekolah dan Akademi Sepak Bola (SSB Bintang Timur), kesebelasan asal Atambua ini mungkin saja belum optimal memperlihatkan semua keahlian yang telah mereka terima selama ini dari sekolah atau akademi yang pernah melahirkan pemain nasional sekelas Frengky Misa.
Namun, yang pasti dalam liga tiga yang berlangsung di Rote kali ini mereka sudah melewati rintangan dari klub-klub penuh ambisi dari sejumlah kabupaten.
Seperti diakui oleh pemilik SSB Bintang Timur, Serena Cosgrova Francis, pembinaan yang sudah dimulai sejak 9 tahun silam itu pelan-pelan sudah memperlihatkan hasilnya. Bukan saja hanya soal keahlian mengelola si kulit bundar, tapi juga sikap profesional dan mental sebagai seorang pemain yang memiliki semangat juang tinggi, namun tetap rendah hati dan sportif..
Erick adalah salah satunya. Striker dari Bintang Timur itu sebenarnya adalah pemuda kelahiran Kabupaten Soe. Namun kecintaannya pada BeTA yang telah membinanya, membuat dia memilih untuk membela Atambua.
Sikap profesional itu tampak ketika BeTA Atambua harus berhadap dengan Perss Soe pada pertandingan 16 besar, sejenak Erik harus melupaklan kampung halamannya. Dia tak sungkan menjebol gawang dan memulang kesebelasan dari Kabupaten Soe.
Tentu saja sebagian besar publik pencinta sepak bola NTT berharap agar Ercik bersama teman-teman terus melaju ke final, dan kalau bisa mengangkat trofi ETMC tahun ini. Tentu saja tidak mudah, karena lawan-lawan tangguh sudah menunggu mereka dalam pertandingan di semina final dan mungkin juga final.
Tentu saja, Erick dan kawan memiliki peluang besar untuk bersinar seperti bintang dari timur. Tentu saja Erick memiliki ambisi untuk memperlihatkan bahwa akademi yang membinanya selama ini bukan sekolah bola kaleng-kaleng.
Apalagi karena bergabung dalam SSB Bintang Timur, Erick dan beberapa temannya seperti Crespo, Marten yang pernah menimba ilmu sepak bola dengan berlatih ke tempat lain seperti Darwin, Kualalumpur, bahkan hingga jauh ke Ajax, Amsterdam.
Kalau terus bertekun, bukan tidak mungkin Erick dan kawan-kawan tidak saja laksana bintang yang bersinar di Pulau Rote, tapi bisa juga akan mengikuti jejak seniornya menjadi bintang di Indonesia. Semoga.






