El Tari Memorial Cup (sebelumnya bernama El Tari Cup) adalah kompetisi sepak bola tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Asprov PSSI Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Provinsi NTT dan diselenggarakan setiap tahun.
Turnamen El Tari Memorial Cup ini pertama kali dicetuskan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur kala itu yakni El Tari pada tahun 1969. Gagasan pembentukan turnamen ini menurut El Tari adalah sebagai upaya menyatukan masyarakat di NTT.
Turnamen El Tari Cup pertama kali diadakan pada tahun 1969, dan Perseftim (Flores Timur) keluar sebagai juara. Saat itu Perseftim diperkuat dua nama beken Cor Manteiro dan Valens Fernandez.
Tahun 1979 Turnamen El Tari Cup berubah nama El Tari Memorial Cup (ETMC) usai Gubernur El Tari meninggal dunia.
Selama berlangsung ETMC, PSN Ngada masih memegang rekor juara dengan mencatat 7 kali juara, tahun 1970, 1982, 1986, 1997, 2001, 2003, 2007. Sedangkan PSK Kupang mencatat rekor runner up dengan 6 kali juara, di tahun 1972, 1979, 1988, 1991, 1993, 1995.

Tahun 2023, Kabupaten Rote akan menjadi host ETMC. Sebanyak 23 tim Askot dan Askab akan bersaing dengan 4 klub anggota Asprov NTT akan saling berburu tiket menuju liga 3 nasional.
Liga 3 ETMC akan menggunakan regulasi PSSI, Klub yang bertanding tentunya sudah terdaftar menjadi anggota Asprov PSSI NTT. Klub wajib menyertakan pemain kelahiran antara 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2005. Tim bisa diperkuat 7 pemain senior, namun hanya 5 pemain senior yang akan didaftarkan di Daftar Susunan Pemain (DSP). Pemain yang akan berlaga di ETMC tidak bermain di Liga 1, Liga 2, Liga 1 U-20, Elite Pro Academy (EPA) U-18.
Pelatih menjadi komponen penting dalam klub. Sehingga setiap kompetisi ada aturan yang ditetapkan untuk pelatih. Seperti dalam Liga 3 ETMC NTT. Pelatih yang mendampingi klub harus berlisensi B AFC dan asisten pelatih D AFC. Tidak akan ada pelatih atau ofisial asing karena semua harus berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).
Melihat minimnya pelatih berlisensi B AFC dan C AFC, Asprov PSSI NTT bisa minta keringanan, sehingga PSSI Pusat memberi kelonggaran untuk Liga 3 tingkat provinsi ? Jika tidak klub harus merogoh koceknya sedikit lebih dalam untuk mendatangkan pelatih dari Jawa atau Bali sesuai ketentuan peraturan pertandingan.
Lisensi kepelatihan dapat dianggap sebagai ijazah yang menjadi modal seseorang untuk menjadi pelatih tim sepakbola. Prosedur kursus kepelatihan pada setiap negara mengikuti aturan konfederasi sepakbola benua masing-masing.
Indonesia mengacu pada prosedur Federasi Sepakbola Asia (AFC) untuk mendapatkan lisensi kepelatihan. Ada lima lisensi kepelatihan menurut AFC, yaitu Grassroots (lisensi D Nasional), C AFC, B AFC, A AFC, dan AFC Pro.
AFC sebenarnya sudah memulai kursus-kursus kepelatihan sejak 1989. Namun, untuk tingkatan C, B, dan A baru dimulai bertahan sejak 1994. Level AFC Pro baru dilakukan sejak 2001.






