Kampiunnews | Pemalang – Desa Limbangan, yang terletak di pesisir utara Kabupaten Pemalang, sekitar 2 km dari garis pantai, telah mengalami dampak serius akibat rob (banjir air laut) sejak tahun 2017. Rob yang semakin parah akibat naiknya permukaan air laut telah menyebabkan kerusakan signifikan pada lahan pertanian dan pemukiman, bahkan memicu eksodus massal warga yang terpaksa meninggalkan desa mereka.
Sebelum terdampak, mayoritas penduduk Limbangan bergantung pada pertanian dan usaha bunga melati. Hasil panen melati mampu mencapai Rp60 juta per hektar setiap musim, dengan dua kali panen per tahun. Artinya, potensi pendapatan dari satu hektar mencapai Rp120 juta per tahun. Namun, hilangnya sekitar 100 hektar kebun melati akibat rob menyebabkan masyarakat kehilangan potensi ekonomi sebesar Rp1,8 miliar setiap tahun.
Sebagai respons terhadap krisis ini, Yayasan Green Mangrove bersama masyarakat Desa Limbangan, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, secara resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk “Limbangan Desa Mandiri Peduli Mangrove” pada awal Juli 2025. Program ini merupakan langkah konkret untuk mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Melalui pendekatan berbasis ekosistem dan pemberdayaan masyarakat lokal, inisiatif ini tidak hanya difokuskan pada konservasi ekosistem mangrove, tetapi juga pada penguatan kapasitas sosial-ekonomi masyarakat pesisir. Diharapkan program ini dapat menjadi model percontohan dalam membangun ketahanan komunitas terhadap krisis iklim secara berkelanjutan.

Menurut Yuliarto, Ketua Board of Director Yayasan Green Mangrove, “Kondisi ini bukan hanya bencana ekonomi, tetapi juga tragedi sosial dan ekologis yang memperparah ketimpangan di daerah pesisir. Karena itu, Desa Limbangan kami pilih sebagai titik awal gerakan pemulihan berbasis masyarakat melalui konservasi mangrove.”
Kelik Wirawan, Ketua Yayasan Green Mangrove, menambahkan, “Ekosistem mangrove merupakan penyangga alami yang sangat efektif dalam menahan abrasi, menyerap karbon, dan menjaga keanekaragaman hayati. Namun, kawasan mangrove di Pantura Jawa terus terdegradasi karena konversi lahan, pencemaran, dan kurangnya kesadaran masyarakat.”
Green Mangrove melihat urgensi untuk memulihkan fungsi ekologis mangrove dan menjadikannya bagian penting dari solusi iklim berkelanjutan. “Kami tidak hanya ingin menanam mangrove, tapi juga membangun kesadaran kolektif warga untuk menjaga dan merawatnya secara mandiri. Limbangan sebagai Desa Mandiri Peduli Mangrove adalah simbol nyata dari komitmen ini,” tegas Sigit Widyawan, Dewan Pembina Yayasan Green Mangrove.
Program Limbangan Desa Mandiri Peduli Mangrove diharapkan tidak hanya memperkuat daya tahan lingkungan, tetapi juga memperkuat keberdayaan sosial dan ekonomi warga dalam menghadapi krisis iklim secara inklusif.
“Dengan visi jangka panjang, kami ingin menjadikan Desa Limbangan sebagai learning center untuk konservasi mangrove berbasis masyarakat,” ujar Kelik Wirawan. Green Mangrove juga mendorong sinergi multipihak—melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, sektor swasta, organisasi perempuan, dan kelompok kepemudaan untuk terlibat aktif dalam pengembangan dan replikasi program ini di wilayah pesisir lainnya.






