Kampiunnews|Jakarta โ Sejak awal menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung berkomitmen penuh untuk menempatkan program kesehatan dan pendidikan sebagai prioritas utama dalam jajaran kebijakan daerah.
Gubernur Pramono menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berupaya keras agar alokasi anggaran di kedua sektor vital ini tidak dipangkas. Sebaliknya, anggaran tersebut harus ditambah demi menjamin seluruh warga Jakarta tanpa terkecuali dapat mengakses layanan kesehatan dan pendidikan yang berkualitas.
“Untuk layanan kesehatan, Jakarta saat ini memiliki 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu. Semuanya bisa dimanfaatkan kapan saja oleh masyarakat Jakarta,” ujar Pramono saat menghadiri acara Launching dan Diskusi Buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z karya Rocky Gerung dan Airlangga Pribadi Kusman di Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (04/07/2026).
Di sektor pendidikan, Pemprov DKI Jakarta terus mengoptimalkan berbagai program jaring pengaman sosial, seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), hingga program bantuan penebusan ijazah bagi siswa yang terkendala biaya.
Hingga saat ini, realisasi penyaluran beasiswa pendidikan di DKI Jakarta telah mencapai:
- 707.477 beasiswa disalurkan untuk pelajar tingkat SD, SMP, hingga SMA.
- 15.825 beasiswa diberikan kepada mahasiswa jenjang sarjana (S1).
Kabar baiknya, Pemprov DKI Jakarta kini juga mulai memperbolehkan alokasi dana bantuan pendidikan ini untuk mencakup mahasiswa yang menempuh jenjang pascasarjana, baik Magister (S2) maupun Doktor (S3).
Sebagai langkah terobosan untuk masa depan anak-anak Jakarta, Pemprov DKI tengah merancang program prestisius baru untuk tahun mendatang.
“Mulai tahun depan, Pemprov DKI akan menyiapkan program beasiswa daerah semacam LPDP yang akan menyekolahkan 50 hingga 75 anak berprestasi dari keluarga tidak mampu ke luar negeri,” ungkap Pramono.
Selain pendidikan formal, perhatian Pemprov DKI juga menyasar anak-anak marjinal melalui keberadaan Sekolah Rakyat di Jakarta Selatan. Fasilitas ini didirikan khusus untuk menampung anak gelandangan, anak dari keluarga tidak mampu, anak korban keluarga retak (broken home), hingga anak-anak yang putus sekolah.
“Saat ini sudah tertampung kurang lebih 100 anak di Jakarta Selatan, dan 90 di antaranya mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” pungkasnya.






