Kampiunnews|Kupang – Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi Indonesia (KNMTI) Tahun 2026 resmi dibuka di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (7/9/2026). Forum nasional yang mempertemukan mahasiswa teologi dari berbagai daerah di Indonesia ini mengangkat tema “Liturgy of Life and Spirituality”.
Pembukaan KNMTI 2026 berlangsung di Kapela Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang dan dihadiri Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, S.H. Dalam kesempatan tersebut, Jeffry menantang mahasiswa teologi untuk tidak membatasi iman dan spiritualitas hanya di ruang ibadah, tetapi menjadikannya kekuatan nyata dalam menjawab persoalan masyarakat.
Menurut Jeffry, tema “Liturgy of Life and Spirituality” sangat relevan dengan tantangan kehidupan saat ini. Iman dan spiritualitas, katanya, tidak boleh berhenti sebagai ritual maupun pengetahuan teologis, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan yang menghadirkan kasih, keadilan, kepedulian dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
“Iman tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus hidup di tengah-tengah tempat Tuhan mengutus kita,” ujar Jeffry.
Ia menilai mahasiswa teologi memiliki posisi strategis untuk membaca berbagai persoalan kemanusiaan sekaligus ikut mencari jalan keluarnya. Kemiskinan, stunting, intoleransi, kerusakan lingkungan, kekerasan terhadap perempuan dan anak serta berbagai persoalan sosial lainnya membutuhkan keterlibatan gereja dan generasi muda.
“Ilmu teologi harus membuat kita semakin peka melihat persoalan manusia, dan iman harus membuat kita berani mengambil bagian untuk menyelesaikannya,” tegasnya.
Jeffry mengatakan, pendidikan teologi tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang mampu berbicara tentang Tuhan. Lebih dari itu, pendidikan teologi harus membentuk pribadi yang mampu menerjemahkan nilai-nilai iman melalui karakter, pelayanan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia mendorong peserta KNMTI menjadikan forum nasional tersebut bukan sekadar ruang bertukar gagasan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dari realitas masyarakat. Berbagai persoalan sosial yang ditemukan di lapangan perlu menjadi bahan refleksi untuk melahirkan bentuk pelayanan yang lebih kontekstual.
“Manfaatkan masa belajar ini dengan baik, tidak hanya di dalam ruang kuliah, tetapi juga belajar dari kehidupan nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Mahasiswa Teologi Ditantang Bijak di Ruang Digital
Selain persoalan sosial, Jeffry juga mengingatkan mahasiswa mengenai tantangan perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, ruang digital memberikan banyak manfaat, tetapi juga dapat menjadi tempat berkembangnya hoaks, ujaran kebencian dan berbagai perilaku negatif.
“Handphone-nya pintar, tetapi jangan sampai yang memegangnya tidak bijak,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa teologi sebagai bagian dari generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan kebaikan, memperkuat persaudaraan dan membangun kehidupan sosial yang lebih sehat.
Pemerintah Kota Kupang, lanjut Jeffry, memandang gereja, lembaga pendidikan teologi, mahasiswa dan pemerintah sebagai bagian dari ekosistem yang sama dalam membangun masyarakat. Kolaborasi diperlukan untuk memperkuat nilai moral, etika, kepedulian sosial dan kemanusiaan.
Sementara itu, Rektor UKAW Kupang, Prof. Dr. Ir. Godlief Frederik Neonufa, M.T., menegaskan bahwa konsep Liturgy of Life mengajak setiap orang menjadikan seluruh kehidupannya sebagai bentuk ibadah.
Menurut Godlief, liturgi tidak berhenti ketika umat meninggalkan gedung gereja. Justru dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai iman diuji dan diwujudkan melalui kejujuran, pelayanan tanpa pamrih, keberanian membela yang lemah, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan serta menghadirkan keadilan dan kasih.
“Pulanglah dari forum ini bukan hanya dengan catatan baru, tetapi dengan panggilan yang semakin diteguhkan untuk menjadi pelayan Tuhan yang menghadirkan kasih, keadilan, dan pengharapan di tengah dunia,” pesan Godlief.
Ketua Panitia Pelaksana KNMTI, Pdt. Dr. Thomas Ly, M.Th., mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari dengan rangkaian ceramah, diskusi kelompok, refleksi dan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi di Kota Kupang.
KNMTI 2026 diikuti sekitar 40 mahasiswa dari 18 sekolah teologi di Indonesia. Jumlah tersebut lebih rendah dari target awal 70–80 peserta karena kegiatan berlangsung di tengah dampak psikologis pascagempa Flores serta gangguan penerbangan yang memengaruhi perjalanan sejumlah peserta dari wilayah Indonesia bagian barat.
Meski menghadapi berbagai kendala, sebanyak 18 sekolah teologi tetap dapat hadir dan berpartisipasi dalam forum nasional tersebut.
Thomas berharap KNMTI 2026 dapat memperkuat pemahaman mahasiswa bahwa liturgi bukan hanya praktik ritual di dalam gereja, melainkan panggilan untuk menghadirkan kasih, pelayanan dan kepedulian Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. (red_ton)







