Kampiunnews|Jakarta – Peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli dan Hari Kebaya Nasional setiap 24 Juli kembali menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen bersama dalam membangun generasi penerus bangsa sekaligus melestarikan identitas budaya Indonesia. Kedua peringatan tersebut memiliki makna yang saling melengkapi, yakni membentuk anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa melalui kebaya sebagai simbol jati diri perempuan Indonesia.
Dengan mengusung tema “Indonesia Berkebaya, Anak-Anak Hebat, Indonesia Kuat”, Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) bersama Perempuan Indonesia Maju (PIM) menyelenggarakan Peringatan Hari Anak Nasional dan Hari Kebaya Nasional Tahun 2026 di Ballroom Senayan City, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Acara ini dihadiri oleh sekitar 2.000 peserta secara luring, serta disiarkan secara daring melalui jejaring Kowani. Turut hadir dalam kegiatan ini berbagai elemen masyarakat, di antaranya organisasi anggota Kowani, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) dari berbagai daerah. Hadir pula anak-anak berkebutuhan khusus dari Sekolah Luar Biasa (SLB) se-DKI Jakarta, para guru, pegiat organisasi anak, komunitas kebaya dan budaya, tokoh perempuan, serta masyarakat umum yang mengenakan kebaya sebagai bentuk cinta terhadap budaya Indonesia.
Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., mengatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan KOWANI Goes to UNESCO – Memory of the World, yang tidak hanya bertujuan melestarikan kebaya sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap pemenuhan hak-hak anak Indonesia.
Menurut Nannie, Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, bahagia, memperoleh pendidikan yang berkualitas, serta mendapat perlindungan untuk mengembangkan potensi terbaiknya. Sementara itu, Hari Kebaya Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap budaya bangsa dan membangun karakter generasi muda melalui nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kebaya.
“Anak-anak adalah investasi terbesar bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Sementara kebaya merupakan simbol identitas, persatuan, dan kebanggaan perempuan Indonesia. Melalui peringatan Hari Anak Nasional dan Hari Kebaya Nasional, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melindungi anak-anak Indonesia sekaligus melestarikan kebaya sebagai warisan budaya yang harus terus hidup di tengah masyarakat,” ujar Nannie Hadi Tjahjanto.
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi antara KOWANI dan PIM merupakan wujud sinergi organisasi perempuan dalam memperkuat peran perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga sekaligus penjaga nilai-nilai budaya bangsa.
“Melalui kegiatan ini kami berharap lahir generasi Indonesia yang tidak hanya sehat, cerdas, dan berprestasi, tetapi juga bangga terhadap identitas budayanya sendiri. Kebaya harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya dikenakan pada acara seremonial,” tambahnya.
Di balik kemeriahan peringatan tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang akhirnya mengantarkan kebaya memperoleh pengakuan dunia. Perjuangan Tim Nasional Kebaya Indonesia dalam melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa membuahkan dua capaian bersejarah, yakni lahirnya Hari Kebaya Nasional dan ditetapkannya Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.
Di bawah kepemimpinan Lana T. Koentjoro sebagai Ketua Tim Nasional Kebaya Indonesia, berbagai langkah strategis dilakukan untuk memperjuangkan kedua agenda besar tersebut. Sejak menerima amanat dari Direktorat Jenderal Kebudayaan pada tahun 2022, tim mengemban dua misi utama, yaitu mengusulkan penetapan Hari Kebaya Nasional dan mengawal proses nominasi kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 yang menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional. Tonggak sejarah berikutnya tercapai ketika kebaya resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO dalam Sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Asunción, Paraguay, pada 4 Desember 2024.
Pengakuan tersebut merupakan hasil pengajuan bersama lima negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand, yang menunjukkan bahwa kebaya merupakan warisan budaya bersama yang memiliki akar sejarah kuat di kawasan.
Sebagai Ketua Tim Nasional Kebaya Indonesia, Lana T. Koentjoro mengoordinasikan sinergi antara pemerintah, organisasi perempuan, akademisi, komunitas budaya, pelaku industri kreatif, serta masyarakat untuk memperkuat posisi kebaya sebagai simbol sejarah, filosofi, dan jati diri perempuan Indonesia.
Menurut Lana, Hari Kebaya Nasional tidak boleh dimaknai sebatas seremoni tahunan, melainkan harus menjadi gerakan nasional yang mendorong perempuan Indonesia mengenakan kebaya dalam berbagai aktivitas, baik di lingkungan kerja, pendidikan, organisasi, kegiatan sosial, maupun acara budaya.
Ia juga menegaskan bahwa pelestarian kebaya harus tetap menghargai keberagaman model kebaya Nusantara sekaligus membuka ruang bagi inovasi desain tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Selain itu, Lana menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam gerakan berkebaya melalui pendidikan, media digital, dan kegiatan budaya yang kreatif. Menurutnya, pelestarian kebaya juga harus berjalan seiring dengan pemberdayaan perempuan serta penguatan ekonomi kreatif yang melibatkan penjahit, perajin, pembatik, penenun, pengrajin aksesori, hingga desainer Indonesia.
“Kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan identitas, martabat, dan jati diri perempuan Indonesia. Melalui gerakan berkebaya, Hari Kebaya Nasional, serta pengakuan kebaya di UNESCO, kami berharap kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat, berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai budayanya, dan menjadi warisan yang membanggakan Indonesia di mata dunia,” ujar Lana T. Koentjoro, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM).
Perjalanan panjang menuju lahirnya Hari Kebaya Nasional dan pengakuan UNESCO menjadi tonggak penting dalam sejarah pelestarian budaya Indonesia. Tantangan selanjutnya adalah menjadikan kebaya sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat sekaligus memperkuat pendidikan karakter generasi muda, sehingga warisan budaya tersebut tetap lestari, relevan, dan terus diwariskan kepada generasi penerus sebagai identitas bangsa Indonesia di mata dunia.






