Kampiunnews|Ende – Liga 4 Nusa Tenggara Timur (NTT) Piala Gubernur El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXIV Tahun 2025 tidak hanya menjadi ajang kompetisi sepak bola antar kabupaten/kota di NTT, tetapi juga terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian daerah. Turnamen yang diselenggarakan Asprov PSSI NTT bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ende selaku tuan rumah ini berlangsung pada 9 November hingga 6 Desember 2025.
ETMC merupakan bagian dari kompetisi resmi Liga 4 Indonesia dan menjadi fondasi utama pembinaan sepak bola di tingkat daerah. Sebagai turnamen sepak bola tertua di NTT yang telah digelar sejak 1969, ETMC berperan strategis dalam menjaring talenta muda, memperkuat ekosistem olahraga, serta menjaga persatuan antardaerah. Dalam perkembangannya, ETMC juga bertransformasi menjadi event ekonomi regional yang menggerakkan berbagai sektor usaha masyarakat.
Kabupaten Ende mencatatkan sejarah penting sebagai daerah pertama di NTT yang secara resmi melakukan survei dampak ekonomi penyelenggaraan ETMC. Langkah ini memberikan gambaran konkret mengenai kontribusi ekonomi event olahraga terhadap daerah tuan rumah, sekaligus menjadi referensi kebijakan berbasis data untuk penyelenggaraan event serupa di masa mendatang.
Selama dua pekan pelaksanaan ETMC XXXIV, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ende melaksanakan Survei Dampak Ekonomi ETMC untuk mengukur kontribusi ekonomi turnamen yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Survei ini menjadi instrumen penting dalam menilai efektivitas belanja publik pada sektor olahraga.
Hasil kajian tersebut disampaikan secara resmi dalam acara Penyerahan Laporan Kajian Dampak Ekonomi Turnamen Piala Gubernur Liga 4 ETMC XXXIV Ende Tahun 2025, yang digelar pada Senin (22/12/2025). Laporan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Ende dan BPS Kabupaten Ende selama penyelenggaraan turnamen.
Survei yang dimulai pada 21 November 2025 ini memiliki nilai historis karena menjadi kajian pertama di Kabupaten Ende yang secara khusus mengukur dampak ekonomi sebuah event publik. Kajian melibatkan sejumlah kelompok responden utama, antara lain penyelenggara, penonton, pelaku UMKM, sponsor, tim ofisial, serta atlet, untuk memberikan gambaran menyeluruh atas aktivitas ekonomi yang tercipta pada 17 kategori lapangan usaha.
Berdasarkan hasil kajian, total aktivitas ekonomi selama ETMC Ende 2025 diperkirakan mencapai Rp18,40 miliar. Melalui Analisis Input-Output Tabel Provinsi Nusa Tenggara Timur, turnamen ini diproyeksikan memberikan efek multiplier terhadap output ekonomi Provinsi NTT sebesar Rp25,78 miliar.
Selain itu, ETMC Ende 2025 juga memberikan dampak pengganda terhadap Nilai Tambah Bruto (NTB) sebesar Rp13,93 miliar, serta efek multiplier terhadap total kompensasi tenaga kerja di Provinsi NTT sebesar Rp5,47 miliar. Dampak ekonomi terbesar tercatat pada kategori lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, dengan nilai output mencapai Rp6,28 miliar, yang mencerminkan tingginya mobilitas penonton dan peserta selama turnamen berlangsung.
Dari sisi pendapatan langsung, penjualan tiket kategori ekonomi tercatat sebesar Rp1,7 miliar, sementara tiket VIP menyumbang pendapatan Rp358 juta. Pada sisi digital, tayangan live streaming YouTube mencatat total sekitar 16 juta penonton, dengan distribusi penonton terbesar melalui Tiwu Telu Media (33 persen), disusul Bidora Channel (25 persen), Millennial Spirit (16 persen), Tribun Flores (12 persen), dan kanal lainnya sebesar 14 persen.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas penonton ETMC Ende 2025 didominasi oleh kalangan usia produktif 26–35 tahun, yang menegaskan posisi event olahraga seperti Liga 4 ETMC sebagai penggerak ekonomi kreatif, pariwisata olahraga, dan konsumsi masyarakat muda.
Dalam kesempatan yang sama, BPS Kabupaten Ende menerima penghargaan berupa piagam dari Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda atas perannya sebagai narasumber dan pembina statistik sektoral dalam kajian dampak ekonomi ETMC XXXIV Tahun 2025.
Kepala BPS Kabupaten Ende, I Made Suantara, menyampaikan bahwa kajian ini merupakan bentuk kolaborasi strategis antara pemerintah daerah dan BPS selaku pembina statistik. Menurutnya, kajian tersebut dapat menjadi best practice statistik sektoral, khususnya dalam mengukur efektivitas belanja publik pada sektor olahraga dan event daerah.
“Kerja sama seperti ini perlu terus ditingkatkan agar setiap kebijakan dan penyelenggaraan event publik memiliki dasar data yang kuat, terukur, dan berdampak nyata bagi perekonomian daerah, terlebih menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026,” ujar I Made Suantara.







