Kampiunnews|Jakarta – Komitmen Bintang Timur Atambua (BeTA) Academy dalam mencetak pesepak bola profesional kembali dibuktikan. Di bawah kepemimpinan CEO Serena Cosgrova Francis, akademi asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memberangkatkan 11 pemain terbaik hasil seleksi regional untuk mengikuti Seleksi Nasional Elite Pro Academy (EPA) Garudayaksa FC di Training Ground Garudayaksa, Bekasi, pada 15–17 Juli 2026.
Sebanyak 11 pemain dari kelompok usia U-16, U-18, dan U-20 akan bersaing dengan sekitar 800 peserta dari seluruh Indonesia demi memperebutkan tempat di skuad Elite Pro Academy Garudayaksa FC musim kompetisi Liga Super Indonesia 2026/2027. Seleksi ini menjadi pintu masuk menuju pembinaan elite sekaligus kesempatan menembus level sepak bola profesional.
CEO BeTA Academy yang juga Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, mengatakan keberangkatan para pemain merupakan buah dari pembinaan berjenjang yang selama ini dilakukan BeTA.
“Ini adalah kesempatan emas bagi anak-anak NTT untuk menunjukkan kualitas mereka. Kami ingin mereka bermain tanpa rasa takut, disiplin, dan membuktikan bahwa talenta sepak bola dari NTT mampu bersaing dengan pemain terbaik Indonesia,” ujar Serena.
Menurut Serena, seleksi regional yang digelar di Kupang sebelumnya diikuti ratusan pemain dari Pulau Timor, Flores, Sumba, dan Alor. Dari proses tersebut terpilih 15 pemain, namun karena keterbatasan biaya hanya 11 pemain yang dapat diberangkatkan ke Bekasi.
“Kami berharap semua pemain bisa berangkat. Meski memiliki keterbatasan, BeTA tetap berupaya membuka jalan agar anak-anak NTT mendapatkan kesempatan mengejar mimpi menjadi pesepak bola profesional,” tambahnya.
Seleksi nasional berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan legenda Timnas Indonesia Rully Nere, Okto Maniani, Coach Mukhlis Nur, serta tim pencari bakat Garudayaksa FC.
Jalur Menuju Sepak Bola Profesional
Manajer BeTA Academy, Fhito Francis, menegaskan bahwa Elite Pro Academy merupakan jenjang pembinaan tertinggi bagi pemain muda yang ingin menembus klub profesional maupun Tim Nasional Indonesia.
“EPA adalah gerbang menuju sepak bola profesional. Pemain terbaik akan dibina dengan standar tinggi dan memiliki peluang dipromosikan ke tim senior klub Liga Super maupun dipantau Timnas kelompok umur,” kata Fhito.
Tahap pertama seleksi akan menyaring sekitar 60 hingga 80 pemain, sebelum kembali diseleksi oleh tim pencari bakat dari Eropa untuk menentukan sekitar 30 pemain di setiap kelompok usia.
Fhito berharap seluruh wakil NTT mampu melewati setiap tahapan seleksi.
“Target kami sederhana, anak-anak tampil maksimal dan menunjukkan kualitas terbaik. Kami optimistis mereka mampu bersaing,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pembinaan usia muda, BeTA Academy juga menanggung tiket perjalanan, akomodasi, konsumsi, transportasi lokal, hingga tiket kepulangan bagi seluruh pemain beserta orang tua yang mendampingi.
“Kami ingin mereka fokus bermain tanpa memikirkan biaya. Ini adalah investasi untuk masa depan sepak bola NTT,” jelas Fhito.
Dukungan yang diberikan Bintang Timur Atambua mendapat apresiasi dari para orang tua pemain.
Willy Dambu, salah satu orang tua pemain yang rela menempuh perjalanan panjang dari NTT, mengungkapkan rasa syukurnya. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan Bintang Timur Atambua. Dengan jaringan dan dukungan transportasi serta akomodasi yang diberikan, kami merasa sangat tertolong. Saya rela datang bersama anak saya menggunakan KM Dharma Lautan Utama lewat Surabaya demi kesempatan ini. Ini adalah mimpi kami sebagai orang tua untuk melihat anak berprestasi di sepak bola nasional,” ujar legenda sepak bola NTT..
Sementara itu, ibu dari Yoakim Anggareza Beu salah satu peserta seleksi U-16 dari Bajawa, menambahkan, “Sebagai orang tua, kami hanya bisa berdoa dan mendukung. Ketika ada program seperti ini dari Bintang Timur Atambua, itu seperti jawaban atas doa kami. Kami berharap anak-anak NTT bisa menunjukkan bahwa mereka punya talenta luar biasa. Terima kasih kepada Ibu Serena dan Kaka Fhito yang sudah peduli dengan masa depan anak-anak kami.”
John Seo jurnalis senior NTT, juga menyampaikan harapannya, “Ini bukan sekadar tentang sepak bola, tapi tentang mengubah nasib keluarga. Jika anak saya bisa lolos dan berkembang di EPA, itu akan membuka banyak pintu untuk masa depannya. Kami percaya proses tidak akan mengkhianati hasil.”






