Kampiunnews|Jakarta โ Dalam sejarah Piala Dunia FIFA, hanya sedikit pertandingan yang mampu melampaui batas olahraga dan menjadi bagian dari sejarah dunia. Salah satunya adalah duel klasik antara Argentina dan Inggris pada babak perempat final Piala Dunia FIFA 1986 di Estadio Azteca, Mexico City.
Di hadapan 114.580 penonton, pertandingan yang digelar pada 22 Juni 1986 itu dikenang bukan hanya karena kemenangan Argentina 2-1, tetapi juga karena penampilan luar biasa Diego Armando Maradona. Dalam waktu hanya empat menit, sang kapten mencetak dua gol yang selamanya mengubah sejarah sepak bola: satu melalui kontroversi yang dikenal sebagai “Tangan Tuhan” (Hand of God), dan satu lagi yang hingga kini disebut sebagai “Goal of the Century” atau Gol Abad Ini.
Laga tersebut menjadi simbol kejeniusan Maradona sekaligus salah satu pertunjukan individu terbaik yang pernah ditampilkan di panggung sepak bola dunia.
Perjalanan Maradona menuju momen bersejarah itu tidaklah mudah.
Pada usia 17 tahun, ia harus menelan kekecewaan besar setelah dicoret pelatih Cesar Luis Menotti dari skuad Argentina untuk Piala Dunia 1978. Sang remaja berbakat bahkan menangis di bawah sebuah pohon ketika mengetahui dirinya gagal masuk dalam tim juara dunia tersebut.
Empat tahun kemudian, di Piala Dunia Spanyol 1982, bakat luar biasanya mulai terlihat. Namun, permainan keras para lawan, terutama penjagaan ketat Claudio Gentile dari Italia, membuatnya kesulitan berkembang. Turnamen itu berakhir pahit setelah Maradona mendapat kartu merah saat menghadapi Brasil.
Semua pengalaman tersebut membentuk dirinya menjadi pemain yang jauh lebih matang ketika tampil di Piala Dunia Meksiko 1986. Memasuki babak perempat final, Maradona telah mencetak satu gol dan empat assist, menjadi motor permainan Argentina di bawah arahan Carlos Bilardo.
Pertemuan Argentina dan Inggris bukan sekadar pertandingan sepak bola.
Hubungan kedua negara saat itu masih dipenuhi ketegangan setelah Perang Falklands pada 1982. Luka politik dan nasionalisme masih sangat terasa di kedua kubu.
Rivalitas di lapangan juga telah berlangsung lama. Pada Piala Dunia 1966, pelatih Inggris Alf Ramsey pernah menyebut pemain Argentina sebagai “hewan” setelah pertandingan yang berlangsung panas. Ucapan tersebut membekas dalam ingatan masyarakat Argentina selama bertahun-tahun.
Maradona sendiri tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Inggris. Sebaliknya, pelatih Inggris Bobby Robson sangat memahami ancaman yang akan dihadapi timnya.
“Argentina tidak akan memiliki peluang menjadi juara dunia tanpa Maradona,” ujar Robson sebelum pertandingan.
Karena itu, strategi Inggris sederhana: menghentikan Diego Maradona.
Namun, rencana tersebut gagal total.
Sejak menit-menit awal pertandingan, Maradona tampil di luar nalar.
Ia terus menggiring bola melewati pemain-pemain Inggris, memaksa lawan melakukan pelanggaran, dan menjadi ancaman dalam setiap serangan Argentina. Sebelum turun minum saja, ia sudah enam kali dijatuhkan pemain Inggris.
Puncaknya terjadi pada awal babak kedua.
Menit ke-51, Maradona melompat menyambut bola bersama penjaga gawang Peter Shilton. Bola masuk ke gawang Inggris setelah mengenai tangan kiri Maradona. Wasit mengesahkan gol tersebut meski protes keras dilayangkan para pemain Inggris.
Gol itu kemudian dikenal sebagai “Hand of God” atau “Tangan Tuhan”, salah satu gol paling kontroversial sepanjang sejarah sepak bola.
Hanya empat menit berselang, Maradona kembali membuat dunia terdiam.
Ia menerima bola dari tengah lapangan, melewati lima pemain Inggris, mengecoh Peter Shilton, lalu menceploskan bola ke gawang. Aksi solo tersebut berlangsung sekitar 60 meter dan hanya dalam hitungan detik, namun cukup untuk mengabadikan namanya dalam sejarah sepak bola.
Gol itu kemudian dinobatkan FIFA sebagai “Goal of the Century”.
Meski Gary Lineker sempat memperkecil ketertinggalan melalui sundulan kepala, Argentina tetap mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang berbunyi.
Kemenangan itu mengantar Argentina ke semifinal sebelum akhirnya menjuarai Piala Dunia 1986 setelah mengalahkan Jerman Barat di partai final.
Kata-Kata yang Menjadi Legenda
Usai pertandingan, Maradona menjelaskan gol kontroversialnya dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal dalam sejarah olahraga.
“Gol itu sedikit dicetak dengan kepala Maradona dan sedikit dengan tangan Tuhan.”
Ia juga mengungkapkan makna emosional di balik kemenangan tersebut.
“Mencetak gol itu terasa seperti balas dendam simbolis terhadap Inggris.”
Tentang kemenangan Argentina, Maradona bahkan berkelakar,
“Rasanya seperti mencuri dompet orang Inggris.”
Sementara itu, komentator legendaris asal Uruguay, Victor Hugo Morales, melahirkan salah satu komentar paling ikonik sepanjang masa saat menyaksikan gol kedua Maradona.
“Jenius… jenius… jenius! Dia masih berlari… Gooooool! Hidup sepak bola! Gol yang luar biasa! Layang-layang kosmik, dari planet mana Anda datang?”
Penampilan Maradona bahkan mendapat pengakuan dari para pemain Inggris sendiri.
John Barnes mengaku tidak pernah melihat pemain seperti Maradona.
“Saya benar-benar terpukau melihatnya bermain. Dia membuat semua orang ketakutan. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Dia berada di level yang berbeda dari siapa pun di dunia.”
Gary Lineker, pencetak gol Inggris dalam pertandingan tersebut, juga memberikan penghormatan yang luar biasa.
“Ketika Diego mencetak gol kedua itu, saya merasa ingin bertepuk tangan. Mustahil mencetak gol seindah itu. Dia adalah pemain terbaik sepanjang masa.”
Rekan setim Maradona, Jorge Valdano, bahkan mengaku dirinya hanya menjadi penonton ketika gol kedua itu tercipta.
“Pada awalnya saya ikut berlari bersamanya. Kemudian saya sadar saya hanya menjadi penonton. Itu adalah petualangan pribadi Diego.”
Pertandingan legendaris tersebut juga menyimpan sejumlah kisah menarik.
Karena cuaca panas di Meksiko, Federasi Sepak Bola Argentina sebenarnya telah menyiapkan jersey berbahan Aertex yang lebih ringan. Namun, ketika harus mengenakan seragam cadangan berwarna biru tua melawan Inggris, pelatih Carlos Bilardo mendapati jersey yang tersedia terlalu tebal.
Beberapa jam sebelum pertandingan, staf Argentina berkeliling Mexico City mencari seragam yang lebih nyaman. Diego Maradona kemudian memilih sendiri salah satu desain jersey sambil berkata,
“Itu jersey yang bagus. Kita akan mengalahkan Inggris dengan seragam itu.”
Prediksinya terbukti benar.
Sementara itu, Peter Shilton yang memiliki tinggi 1,83 meter hampir saja menggagalkan gol “Tangan Tuhan”. Semasa kecil, Shilton bahkan sering bergelantungan di pegangan tangga toko milik orang tuanya dengan harapan tubuhnya menjadi lebih tinggi. Beberapa sentimeter tambahan mungkin akan mengubah sejarah sepak bola.
Kini, momen gol solo Maradona diabadikan melalui sebuah patung yang berdiri megah di luar Estadio Azteca.
Tak hanya itu, jersey yang dikenakan Maradona pada pertandingan tersebut juga menjadi benda bersejarah. Steve Hodge, gelandang Inggris yang bertukar jersey dengannya usai pertandingan, menjual seragam itu melalui rumah lelang Sotheby’s pada 2022 dengan harga US$9,2 juta, menjadikannya memorabilia olahraga termahal yang pernah terjual.
Hingga kini, hampir empat dekade setelah pertandingan tersebut, duel Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 1986 tetap dikenang sebagai salah satu laga terbesar dalam sejarah sepak bola. Dan di atas segalanya, pertandingan itu menjadi panggung abadi bagi Diego Maradona seorang legenda yang, dalam satu sore di Mexico City, memperlihatkan kepada dunia bagaimana seorang jenius mampu mengubah sejarah hanya dengan sentuhan kaki… dan satu sentuhan tangan.






