Kampiunnews | Vatikan – Robert Francis Prevost resmi terpilih sebagai Paus ke-267 Gereja Katolik Roma pada hari Kamis dan memilih nama Paus Leo XIV. Ia menjadi paus pertama dalam sejarah yang berasal dari Amerika Serikat, sekaligus mematahkan anggapan umum sebelum konklaf bahwa seorang warga AS akan sulit terpilih sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Paus Leo XIV, seorang poliglot kelahiran Chicago berusia 69 tahun, telah lama dikenal sebagai figur religius lintas batas negara. Ia menghabiskan lebih dari dua dekade di Peru sebagai misionaris, uskup, dan warga negara yang dinaturalisasi, serta sempat memimpin ordo religius internasional, Ordo St. Augustine.
Sebelum terpilih sebagai Paus, Leo XIV menduduki posisi strategis di Vatikan, memimpin kantor yang bertugas mengelola dan memilih para uskup di seluruh dunia. Peran ini menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh di lingkungan Kuria Roma hingga wafatnya Paus Fransiskus.
Dalam wawancara sebelumnya, Paus Leo XIV menegaskan komitmennya pada nilai-nilai solidaritas dan kehadiran gereja di tengah masyarakat marjinal. “Uskup tidak seharusnya menjadi pangeran kecil yang duduk di kerajaannya,” ujarnya dalam sebuah pernyataan kepada situs resmi Vatikan.
Gaya kepemimpinannya diyakini akan berbeda dari Fransiskus, meski keduanya sama-sama dikenal berpihak kepada kaum miskin dan migran. Paus Leo XIV diharapkan melanjutkan proses sinodal, yaitu mekanisme konsultatif yang melibatkan kaum awam dalam kehidupan Gereja.
Latar belakang akademiknya tak kalah kuat. Ia ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1982 dan meraih gelar doktor hukum kanon dari Universitas Kepausan St. Thomas Aquinas di Roma. Sepanjang pelayanannya, ia aktif menjalin komunikasi lintas budaya, terutama melalui bahasa Spanyol dan Italia.
Namun, sikapnya terhadap isu-isu progresif dalam Gereja, seperti keterbukaan terhadap komunitas LGBTQ+, masih menjadi tanda tanya. Dalam sebuah pidato tahun 2012, ia mengkritik media Barat dan budaya populer yang, menurutnya, “mendorong gaya hidup dan nilai-nilai yang bertentangan dengan Injil,” merujuk antara lain pada keluarga sesama jenis.
Seperti banyak tokoh tinggi dalam Gereja, Paus Leo XIV juga menghadapi sorotan terkait hubungannya dengan kasus-kasus pelecehan seksual di lingkungan Gereja. Masyarakat internasional kini menanti bagaimana ia akan menanggapi tantangan transparansi dan akuntabilitas di era baru kepemimpinannya.






