Kampiunnews | Jakarta – SETARA Institute secara resmi meluncurkan versi terbaru laporan Indeks Kota Toleran (IKT) tahun 2024 dalam sebuah acara yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (27/5). Laporan ini mencakup pemeringkatan 94 kota di Indonesia berdasarkan praktik-praktik toleransi terbaik yang diukur melalui indikator dan variabel yang ketat.
SETARA Institute adalah lembaga swadaya masyarakat berbasis di Indonesia yang berfokus pada penelitian dan advokasi mengenai demokrasi, kebebasan politik, dan hak asasi manusia.
Laporan IKT 2024 menunjukkan bahwa Kota Salatiga, Jawa Tengah, kembali memuncaki daftar sebagai kota paling toleran dengan skor 6,544, diikuti Kota Singkawang, Kalimantan Barat dengan skor 6,420.
Sementara itu, Kota Kupang yang tahun lalu berada di posisi ke-9, kini berada di peringkat ke-10 dengan skor 5,853, tetap masuk dalam jajaran 10 besar kota paling toleran di Indonesia.
Peringkat 10 Besar Kota Paling Toleran IKT 2025:
- Salatiga – 6,544
- Singkawang – 6,420
- Semarang – 6,356
- Magelang – 6,248
- Pematang Siantar – 6,115
- Sukabumi – 5,968
- Bekasi – 5,939
- Kediri – 5,925
- Manado – 5,912
- Kupang – 5,853
Empat variabel utama yang digunakan dalam penilaian IKT meliputi: Visi dan rencana pembangunan inklusif, Regulasi yang kondusif untuk toleransi, Kepemimpinan yang progresif, Rendahnya tingkat intoleransi serta pelanggaran terhadap kebebasan beragama atau berkeyakinan.
Selain itu, penilaian juga mempertimbangkan delapan indikator, antara lain regulasi pemerintah kota, regulasi sosial, tindakan pemerintah, serta kondisi demografi sosio-keagamaan. Indikator-indikator ini menjadi dasar dalam mengukur praktik toleransi terbaik di kota-kota seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Dr. Ismail Hasani, S.H., M.H., Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, menyampaikan bahwa laporan IKT mendapat respon positif dari banyak wali kota. “Karena kemampuannya menggerakkan elemen-elemen masyarakat, birokrasi, termasuk juga memprovokasi wali kota-wali kota,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ismail menegaskan bahwa pihaknya akan terus menyusun indeks ini karena menjadi kebutuhan nasional. “Komitmen kami jelas, apapun yang terjadi, indeks kota toleran akan terus kita susun. Karena ini bukan hanya kebutuhan SETARA, tapi kebutuhan republik.”
Pada peluncuran versi rilis 2024 ini, Ismail juga memperkenalkan tiga pilar utama kepemimpinan ekosistem toleransi, yaitu: Kepemimpinan politik toleransi, Kepemimpinan sosial, Kepemimpinan birokrasi.
Menurutnya, ketiga pilar ini akan menopang program jangka panjang SETARA Institute untuk membangun ekosistem toleransi dan memperkuat inklusi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
Kupang Bangga Pertahankan 10 Besar Sejak 2018
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, yang hadir mewakili Wali Kota dr. Christian Widodo, menyampaikan apresiasi atas kinerja SETARA Institute. Ia menyatakan kebanggaannya karena Kota Kupang berhasil mempertahankan posisi 10 besar kota toleran di Indonesia sejak tahun 2018.
“Meskipun variabel pengukuran semakin kompleks, ini justru menjadi semangat bagi kami untuk menanamkan prinsip toleransi di setiap lini kehidupan masyarakat,” ujar Serena.
“Penghargaan ini menjadi semangat baru bagi kami dalam mewujudkan visi Kota Kupang sebagai rumah besar bersama yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.”
Peringkat 10 Kota Paling Intoleran IKT 2025:
85. Pagar Alam – 4,381
86. Sabang – 4,377
87. Ternate – 4,370
88. Makassar – 4,363
89. Bandar Lampung – 4,357
90. Pekanbaru – 4,320
91. Banda Aceh – 4,202
92. Lhokseumawe – 4,140
93. Cilegon – 3,994
94. Parepare – 3,945






