Kampiunnews | Timika – PT Freeport Indonesia, anak perusahaan Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. yang berbasis di Phoenix, Amerika Serikat, dinilai minim perhatian terhadap inisiatif kelompok-kelompok di Mimika yang berupaya memberdayakan generasi muda suku Amungme, Kamoro, dan suku-suku kekerabatan lainnya. Meskipun generasi muda dari dua suku tersebut adalah pemilih sah wilayah adat yang dieksplorasi Freeport untuk mendapatkan emas dan mineral lainnya, perhatian perusahaan terhadap mereka masih sangat rendah.
Pendiri Yayasan Pengembangan Talenta Papua (YPTP), Didimus Kosi, mengkritik PT Freeport Indonesia dan Koperasi Keuskupan Timika yang mengadakan program pendidikan dan pelatihan bagi anak-anak asli Papua. Ia menegaskan bahwa YPTP sudah lama melaksanakan program serupa dan mendorong kolaborasi yang saling mendukung daripada kompetisi.
Didimus, seorang imam Katolik asli Papua dari Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau Saudara Dina, menyoroti bahwa dukungan perusahaan melalui tanggung jawab sosial masih minim, sementara yayasan berusaha mengatasi kemiskinan masyarakat asli yang menjadi pemilik ulayat. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap selektivitas dukungan dana yang diberikan perusahaan.
Melihat kondisi anak-anak terlantar dan putus sekolah di Mimika, Didimus merasa terdorong untuk memberikan perhatian khusus kepada mereka. Yayasan yang didirikan pada 15 Desember 2020 bertujuan memberikan pendidikan non-formal dan pelatihan keterampilan kepada anak-anak tersebut. Dengan visi untuk memberdayakan anak-anak Amungme dan Mimika, yayasan ini berupaya meningkatkan kualitas hidup mereka dan menciptakan lapangan kerja.






