Kampiunnews | Jakarta – PT Brantas Abipraya (Persero) terus memperkuat perannya dalam pembangunan berkelanjutan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Abipraya Cermat” (Cerdas Mengelola Sampah Terpadu). Program ini dilaksanakan di Kelurahan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional Asta Cita, khususnya pada pilar Lingkungan Hidup dan Kesejahteraan Sosial.
Abipraya Cermat diluncurkan pada akhir 2024 sebagai inisiatif strategis untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus meningkatkan keterampilan dan penghasilan masyarakat melalui pengelolaan limbah organik.
“Budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) menjadi salah satu strategi utama dalam pengelolaan sampah organik. Program ini memberikan pelatihan kepada pengurus bank sampah binaan kami untuk memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai pakan maggot,” jelas Dian Sovana, Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya.
BSF (Black Soldier Fly), atau lalat tentara hitam, dikenal sebagai pengurai organik yang sangat efisien. Maggot dari lalat ini mampu menguraikan sampah organik secara cepat dan signifikan mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), khususnya di kota besar seperti Jakarta yang memproduksi lebih dari 7.000 ton sampah per hari.
Pelatihan budidaya maggot dan pembuatan eco enzyme menjadi pilar utama program ini. Masyarakat diajarkan untuk mengolah limbah organik menjadi produk bernilai, seperti maggot kering dan kasgot (kascing maggot) yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif dan pupuk organik berkualitas tinggi. Produk-produk ini mengandung protein tinggi dan sejalan dengan target ketahanan pangan lokal.
Tak hanya itu, eco enzyme yang dihasilkan dari fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran juga diajarkan kepada warga. Produk ini berfungsi sebagai pembersih serbaguna, pupuk alami, dan pengusir hama ramah lingkungan, serta menjadi solusi rumah tangga yang murah dan mudah dibuat.
“Program ini bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tapi juga tentang membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat. Kami ingin mengubah paradigma bahwa sampah adalah beban menjadi sampah adalah sumber daya,” tambah Dian.
Selain berdampak lingkungan, Abipraya Cermat juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi melalui pembinaan bank sampah dan pelatihan kewirausahaan berbasis limbah organik. Dengan keterampilan baru, masyarakat dapat menjalankan usaha mikro secara mandiri.
Program ini menjadi bagian dari kontribusi Brantas Abipraya dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11.6 (pengurangan dampak lingkungan perkotaan) dan SDG 2.1 (ketahanan pangan dan gizi).
“Keberhasilan Abipraya Cermat diukur bukan hanya dari jumlah peserta, tapi dari dampak nyata terhadap pengurangan limbah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Dian.
Brantas Abipraya berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan dan dampak program ini demi mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan mandiri. Melalui sinergi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah, Abipraya membuktikan bahwa pengelolaan sampah bisa menjadi solusi inovatif sekaligus peluang bisnis berkelanjutan.






