Kampiunnews|Jakarta – Michael Olise tampil sebagai salah satu pemain paling bersinar bersama Timnas Prancis di Piala Dunia FIFA 2026. Namun, perjalanan yang membentuk kualitas permainan winger berusia 24 tahun itu justru dimulai di Inggris, negara tempat ia lahir dan mengasah bakat sejak usia dini.
Menjelang laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia FIFA 2026 melawan Inggris di Miami, kisah Olise menjadi semakin menarik. Lahir di London, ia sebenarnya memiliki peluang membela empat negara berbeda, yakni Inggris, Prancis, Nigeria, dan Aljazair. Namun, pada akhirnya ia memilih mengenakan seragam Les Bleus, negara asal ibunya.
“Saya berasal dari empat negara. Saya merasa beruntung karena semuanya membentuk siapa diri saya saat ini. Saat tumbuh di London, kami sering mengunjungi Aljazair, Nigeria, dan Prancis,” ujar Olise dalam wawancaranya dengan Bayern Munich pada Desember 2024.
Meski memiliki latar belakang multikultural, perkembangan sepak bola Olise sangat dipengaruhi oleh sistem pembinaan Inggris.
Sejak kecil, pemain yang mengidolakan Neymar itu sempat menimba ilmu di akademi Chelsea dan Manchester City. Namun, perjalanan kariernya benar-benar menemukan arah ketika bergabung dengan akademi Reading FC, klub yang saat itu bermain di Championship, kasta kedua sepak bola Inggris.
Di Reading, Olise dikenal sebagai sosok pendiam, tetapi memiliki kepercayaan diri tinggi terhadap kemampuannya. Para pelatih melihat bakat luar biasa yang dimilikinya meski secara fisik belum berkembang sempurna.
“Ia datang setelah dilepas Chelsea dan Manchester City. Namun kami percaya pada kemampuannya dan memberikan kesempatan untuk berkembang,” kenang Lee Herron, yang saat itu menjabat sebagai Manajer Akademi Reading.
Analis performa akademi Reading, Tom Cooper, juga mengingat bagaimana Olise mampu menghadirkan momen-momen luar biasa di lapangan.
“Secara fisik ia masih kurus, tetapi kualitas tekniknya luar biasa. Ia sering menciptakan momen yang membuat semua orang terpukau, dan yang menarik, ia hampir tidak pernah merayakan golnya,” ujar Cooper.
Karakter tersebut masih terlihat hingga kini. Olise dikenal sebagai pemain yang rendah hati, menjauhi sorotan, dan lebih memilih membiarkan permainannya berbicara di atas lapangan.
Perkembangan Olise berlangsung sangat cepat.
Pada musim 2018/2019, ia dinobatkan sebagai Scholar of the Season Reading. Penampilan impresifnya membuat pelatih José Gomes memberikan debut tim utama saat usianya baru menginjak 17 tahun.
Tak lama kemudian, Olise mendapat panggilan pertamanya ke Timnas Prancis U-18 untuk mengikuti Turnamen Toulon.
Musim demi musim, performanya terus meningkat. Pada kompetisi Championship 2020/2021, ia menjadi salah satu pemain muda terbaik Inggris setelah tampil dalam 44 pertandingan liga, mencetak tujuh gol dan menyumbang 12 assist.
Salah satu momen paling berkesan terjadi saat ulang tahunnya yang ke-19 ketika ia mencetak gol kemenangan dramatis pada menit ke-89 ke gawang Queens Park Rangers.
Menurut Tom Cooper, statistik Olise pada musim tersebut menempatkannya di jajaran pemain paling kreatif di Eropa, sejajar dengan pemain-pemain dari liga elite Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, dan Prancis.
“Ia sudah menunjukkan kualitas sebagai salah satu pemain paling kreatif di Eropa, meskipun masih bermain di Championship bersama Reading,” kata Cooper.
Penampilan impresif bersama Reading membuat Crystal Palace merekrutnya pada 2021.
Olise kemudian berkembang menjadi salah satu gelandang serang paling kreatif di Premier League selama tiga musim sebelum akhirnya bergabung dengan Bayern Munich pada 2024.
Di Jerman, kemampuannya semakin matang. Bersama Bayern, ia berkembang menjadi pemain yang lebih komplet, baik dalam menciptakan peluang maupun membantu pertahanan.
Performa konsisten tersebut membawanya menjadi andalan Timnas Prancis di Piala Dunia FIFA 2026.
Hingga menjelang berakhirnya turnamen, Olise memimpin daftar pemberi assist terbanyak dengan lima assist, sekaligus menjadi salah satu motor serangan utama Les Bleus.
Bagi Reading, kesuksesan Olise menjadi bukti keberhasilan sistem pembinaan pemain muda yang mereka miliki.
Lee Herron mengaku bangga melihat mantan anak didiknya kini tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
“Saat itu kami tidak pernah membayangkan ia akan menjadi salah satu pemain terbaik dunia. Semua yang ia capai adalah hasil dedikasi, kerja keras, dan dukungan dari banyak orang di sekelilingnya,” ujarnya.
Kini, Michael Olise bukan hanya menjadi simbol keberhasilan akademi Reading, tetapi juga bukti bahwa perjalanan menuju puncak sepak bola dunia selalu dimulai dari fondasi pembinaan yang kuat. Dari lapangan-lapangan latihan di Inggris, ia tumbuh menjadi salah satu bintang Prancis yang paling bersinar di Piala Dunia FIFA 2026.






