Kampiunnews|Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat pelayanan kesehatan preventif selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program ini tidak hanya membuka akses pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi pintu awal untuk mendeteksi penyakit lebih dini dan mendorong penanganan yang tepat.
Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, menilai keberlanjutan program CKG penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan sekaligus memperluas akses layanan medis, khususnya bagi kelompok rentan dan masyarakat yang selama ini belum rutin memeriksakan kondisi kesehatannya.
“Cek Kesehatan Gratis merupakan langkah strategis untuk membangun masyarakat yang lebih sehat. Namun, keberhasilan program ini tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang menjalani pemeriksaan. Hasil skrining harus ditindaklanjuti dengan pengobatan, pendampingan, dan edukasi agar masyarakat benar-benar memperoleh manfaat kesehatan,” demikian ungkap Lana T. Koentjoro saat ditemui usai audiensi dengan Lembaga Penyiaran Pemerintah TVRI di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, menegaskan bahwa dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) perlu diperkuat dengan edukasi dan tindak lanjut medis agar manfaatnya dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
dr.Isabella C. Koraag Wakil Ketua Umum PIM Bidang Kesehatan menambahkan, sebagai organisasi perempuan yang aktif dalam pemberdayaan perempuan dan kesehatan masyarakat, PIM mendorong keluarga, komunitas, dan organisasi masyarakat untuk berperan aktif membangun budaya hidup sehat. Menurut dr. Isabella, pemeriksaan rutin harus diikuti pola makan seimbang, aktivitas fisik, serta kepatuhan terhadap pengobatan sesuai anjuran tenaga medis, terutama untuk mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.
Lana menekankan, keberhasilan CKG tidak cukup diukur dari banyaknya masyarakat yang menjalani pemeriksaan, tetapi juga dari kesadaran mereka menjaga kesehatan dan menindaklanjuti hasil skrining. Karena itu, kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan organisasi perempuan penting agar deteksi dini benar-benar berujung pada pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa dari sekitar 8,3 juta kasus diabetes dan hipertensi yang terdeteksi melalui CKG, sebanyak 907 ribu kasus telah mulai mendapatkan pengobatan.
Budi menjelaskan, pada 2025 pemerintah lebih berfokus memperluas skrining. Memasuki 2026, program tersebut mulai diperkuat dengan tata laksana atau tindak lanjut pengobatan bagi warga yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan.
Dari 73 juta orang yang menjalani skrining pada 2025, sekitar 7 juta orang diketahui mengalami hipertensi. Namun, baru 755 ribu orang yang telah mendapatkan pengobatan, atau sekitar 11 persen dari jumlah tersebut. Pemerintah menargetkan peningkatan cakupan pengobatan agar lebih banyak pasien dapat mengendalikan tekanan darah dan mencapai kondisi kesehatan yang lebih baik.
Menurut Budi, target ideal yang ingin dicapai mengacu pada konsep triple 80: sebanyak 80 persen penduduk menjalani skrining, 80 persen orang yang terdeteksi sakit mendapatkan pengobatan, dan 80 persen pasien yang diobati mencapai kondisi sehat atau terkendali.
Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan program CKG telah menjangkau 109 juta orang, dari target 130 juta peserta pada 2026. Sementara itu, sebanyak 116 juta orang telah mendaftar.
Pemeriksaan berfokus pada sejumlah faktor risiko utama, antara lain tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan obesitas. Pengendalian faktor-faktor tersebut dinilai penting untuk menekan risiko penyakit kardiovaskular dan stroke yang menjadi penyebab kematian.
Hasil pemeriksaan juga menemukan sejumlah persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, di antaranya karies gigi sebesar 32,5 persen, obesitas 18,2 persen, prehipertensi 9,9 persen, hipertensi 9,7 persen, prediabetes 4,5 persen, diabetes 2,2 persen, dan dislipidemia 72,7 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses pemeriksaan perlu berjalan beriringan dengan penguatan layanan lanjutan, edukasi kesehatan, dan pemantauan pasien. Dengan demikian, CKG diharapkan tidak berhenti pada penemuan penyakit, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.







