Kampiunnews|Nagekeo – Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggugah rasa solidaritas dan kepedulian anak bangsa. Di tengah duka dan perjuangan masyarakat untuk bangkit dari bencana, berbagai elemen masyarakat terus bergerak memberikan bantuan, termasuk Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA), organisasi sayap Partai Gerindra yang menjadi wadah aspirasi politik masyarakat Kristiani.
Kepedulian tersebut diwujudkan GEKIRA melalui penyaluran bantuan kemanusiaan berupa bahan kebutuhan pokok kepada masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah Pulau Flores, Selasa (25/8/2026).
Ketua Umum Pimpinan Pusat GEKIRA, Nikson Silalahi, menegaskan bahwa musibah gempa Flores bukan hanya menjadi persoalan masyarakat NTT, tetapi juga panggilan kemanusiaan bagi seluruh anak bangsa untuk menunjukkan solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
“Dalam situasi seperti ini, yang paling penting adalah kemanusiaan. Saudara-saudara kita di Flores sedang menghadapi penderitaan dan kehilangan. Karena itu, kita ingin hadir, membantu semampu kita, dan menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian,” kata Nikson.
Menurut Nikson, bencana memiliki kekuatan untuk mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia bahwa perbedaan suku, agama, daerah maupun latar belakang tidak boleh menjadi penghalang untuk saling membantu. Justru dalam situasi sulit, semangat persaudaraan dan gotong royong harus semakin diperkuat.
“Gempa Flores menggugah rasa solidaritas anak bangsa untuk peduli terhadap sesama. Bencana tidak mengenal perbedaan. Karena itu, solidaritas juga tidak boleh dibatasi oleh perbedaan. Kita semua adalah bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki tanggung jawab untuk saling mengasihi dan menolong,” ujarnya.
Sebagai organisasi yang membawa nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sosial dan politik kebangsaan, GEKIRA menilai kepedulian terhadap korban bencana merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Nikson mengatakan nilai kasih tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
“Kasih harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika ada saudara kita yang sedang mengalami kesulitan, kita tidak boleh hanya menyaksikan dari jauh. Kita harus bergerak, berbagi dan meringankan beban mereka. Bagi GEKIRA, membantu korban bencana adalah panggilan kemanusiaan,” tegasnya.
Bantuan disalurkan di sejumlah titik terdampak, antara lain Kampung Umarawi, Desa Aeramo; Kelurahan Dhawe; Desa Waekokak; Kelurahan Towak; serta sejumlah lokasi lainnya.
Bantuan berupa sembako tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang hingga kini masih menghadapi dampak bencana dan belum sepenuhnya dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Nikson menegaskan, bantuan GEKIRA tidak dimaksudkan sebagai kepentingan politik praktis. Menurutnya, aksi kemanusiaan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap sesama warga negara.
“Yang kami bawa mungkin sederhana, tetapi kami berharap bantuan ini memiliki arti bagi saudara-saudara kita. Sembako ini adalah simbol bahwa ada kepedulian, ada persaudaraan dan ada kasih yang kita hadirkan bersama,” katanya.
Gempa Flores terjadi pada pukul 04.58 WITA dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Berdasarkan analisis kebencanaan, gempa berkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust). Pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur.
Besarnya dampak bencana membuat masyarakat di sejumlah wilayah Flores harus menghadapi kehilangan anggota keluarga, kerusakan rumah, fasilitas umum serta gangguan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong nasional. Bantuan dari pemerintah, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, kelompok keagamaan hingga masyarakat secara langsung menjadi bagian penting dalam proses tanggap darurat dan pemulihan.
Bagi GEKIRA, perhatian terhadap masyarakat Flores tidak boleh berhenti ketika pemberitaan mengenai bencana mulai berkurang. Proses pemulihan membutuhkan waktu panjang, mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan, tempat tinggal, layanan kesehatan, pendidikan hingga pemulihan sosial masyarakat.
Nikson mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak ragu memberikan bantuan sesuai kemampuan masing-masing.
Ia menilai solidaritas kemanusiaan merupakan kekuatan penting bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, organisasi sosial, dunia usaha, pemerintah dan kelompok keagamaan untuk bergandengan tangan membantu saudara-saudara kita di Flores. Jangan biarkan mereka merasa sendiri menghadapi bencana ini,” tutur Nikson.
Menurutnya, semangat kepedulian harus terus dijaga karena kebutuhan masyarakat terdampak tidak berhenti setelah bantuan pertama disalurkan.
“Kami ingin memastikan bahwa semangat kasih tidak berhenti pada hari ini. Selama saudara-saudara kita masih membutuhkan pertolongan, semangat kemanusiaan harus terus kita jaga,” pungkasnya.
Gempa Flores pada akhirnya tidak hanya menghadirkan duka, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya solidaritas kebangsaan. Dari berbagai daerah, tangan-tangan kepedulian terus bergerak, menunjukkan bahwa dalam menghadapi bencana, persaudaraan Indonesia jauh lebih besar daripada segala perbedaan.







