Kampiunnews|Kupang – Kupang memperlihatkan wajah berbenah. Dalam beberapa tahun terakhir, penampilan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini berubah signifikan.
Jalan-jalan utama semakin mulus, kawasan padat penduduk lebih tertata, dan yang paling terasa genangan air yang dulu jadi keluhan tahunan warga kini kian jarang terlihat.
Perubahan ini bukan datang begitu saja. Semuanya tak terlepas dari kehadiran pemimpinan Kota Kupang, Wali Kota, Christian Widodo dan Wakil Wali Kota, Serena Francis. Keduanya menempatkan infrastruktur dan drainase sebagai prioritas utama pembangunan.
Mereka paham kalau fundamen sebuah kota modern bukan hanya pada gedung megah atau taman kota, tetapi pada sistem dasar yang membuat kehidupan warga berjalan lancar setiap hari.
Menjawab Masalah Klasik Kota: Genangan Air dan Jalan Rusak
Selama bertahun-tahun sebelumnya, warga Kupang akrab dengan pemandangan jalan berlubang dan air menggenang setiap kali hujan turun. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memperlambat mobilitas dan menimbulkan persoalan kesehatan lingkungan.
Masalah itu kini diurai satu per satu lewat program “Kupang Bebas Genangan”. Program ini mencakup pembangunan saluran drainase baru, rehabilitasi saluran lama yang tertutup sedimen, hingga penataan ulang gorong-gorong dan saluran pembuangan di kawasan rawan banjir.
“Drainase bukan hanya urusan teknis, tapi urusan hidup warga. Saat air mengalir lancar, ekonomi pun ikut bergerak lancar,” ujar Wali Kota Kupang dalam satu pertemuan bersama warga di kawasan Naikoten.
Terkaitan pembenahan ini, pemerintah juga melibatkan masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran dan menertibkan bangunan yang berdiri di atas jalur drainase. Langkah ini memastikan infrastruktur yang dibangun tidak cepat rusak dan tetap berfungsi maksimal.
Jalan-Jalan Baru, Kota yang Semakin Terhubung
Bersamaan dengan penataan drainase, perbaikan dan peningkatan kualitas jalan dilakukan secara masif. Di kawasan Oebobo, Walikota Kupang meninjau langsung proses pengerjaan aspal jalan dua lapis yang kini menjadi akses penting antarpermukiman.
Sementara di Kelapa Lima dan Pasir Panjang, pemerintah memperlebar jalan dan memperbaiki bahu jalan yang sempit agar aman bagi pejalan kaki.
Tak hanya di pusat kota, daerah pinggiran seperti Maulafa dan Alak juga ikut merasakan pembangunan. Akses menuju pasar, sekolah, dan fasilitas umum kini jauh lebih mudah.
“Dulu kalau hujan, motor sering mogok karena jalan tergenang. Sekarang air cepat surut, jalan juga bagus. Rasanya Kupang memang berubah,” ungkap Maria, warga Kelurahan Liliba, tersenyum.
Pembangunan Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
Konsep pembangunan yang diterapkan Pemerintah Kota Kupang tidak hanya berorientasi pada hasil fisik, tapi juga keberlanjutan dan keseimbangan lingkungan. Setiap proyek drainase kini disertai dengan studi aliran air dan peta kontur agar tidak memindahkan masalah ke wilayah lain.
Selain itu, penggunaan bahan ramah lingkungan dan desain saluran terbuka di beberapa titik menjadi solusi agar air hujan dapat terserap kembali ke tanah, menjaga cadangan air bawah tanah kota.
Di sejumlah kawasan, pemerintah juga menanam pohon pelindung di sepanjang jalan baru untuk memperkuat struktur tanah dan menambah kesejukan kota.
Kupang Menuju Kota Bebas Genangan
Hasil kerja keras itu mulai tampak nyata. Pada musim hujan tahun ini, banyak warga mengaku tak lagi mendapati genangan besar di depan rumah atau di ruas-ruas utama seperti Jalan Frans Seda, Jalan Timor Raya, dan Jalan Siliwangi. Air mengalir lancar menuju saluran utama, tanpa menyisakan lumpur dan genangan yang biasanya menahan laju kendaraan.
Ke depan, pemerintah berencana memperluas jaringan drainase hingga ke kawasan pesisir dan permukiman baru. Sinergi dengan pemerintah provinsi juga terus diperkuat agar sistem infrastruktur kota dapat terhubung dengan wilayah sekitarnya.
Saat ini, Kupang melangkah lebih pasti menuju masa depan yang lebih tertib dan berdaya saing. Kota ini tengah membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur bukan hanya soal beton dan aspal, melainkan tentang bagaimana setiap tetes air hujan, setiap roda kendaraan, dan setiap langkah warga dapat bergerak bersama dalam harmoni.
Dengan jalan-jalan yang semakin mulus dan drainase yang lancar, Kupang benar-benar telah berubah dari kota yang sebelumnya becek dan tergenang menjadi kota yang mengalirkan harapan. (ARM/ADV)






