Kampiunnews|Salatiga – Akademisi dan peneliti Antonius Paschalis Yosef Djogo atau yang akrab disapa Tonny Djogo menyampaikan Orasi Ilmiah dalam rangka Ujian Promosi Doktor dan Yudisium Program Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Senin (27/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang G 505, Gedung G UKSW, Jalan Diponegoro, Salatiga, Jawa Tengah, tersebut dipimpin oleh Dekan Fakultas Interdisiplin UKSW, Aldi Herindra Lasso, S.Pd., MM.Par., Ph.D.
Dalam kesempatan itu, Tonny Djogo memaparkan hasil disertasinya melalui orasi ilmiah berjudul “Paradoks di Balik Cita Rasa Kopi Bajawa: Kelembagaan dan Kebijakan Sistem Produksi Kopi”, yang mengangkat persoalan mendasar dalam pengembangan Kopi Arabika Flores Bajawa.
Orasi ilmiah tersebut disampaikan di hadapan Promotor Prof. Dr. Daniel Daud Kameo, Ph.D., serta dua Ko-Promotor, yakni Prof. Dr. Intiyas Utama, S.E., M.Si., Ak. yang juga menjabat sebagai Rektor UKSW, dan Dr. Lasmoni. Sementara dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Gatot Sasongko, S.E., M.S., Dr. Wilson M.A. Therik, S.E., M.Si., serta penguji eksternal Dr. Luftan Makmun, S.ST., M.P. dari Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang.
Soroti Paradoks Kopi Bajawa
Dalam pengantar orasinya, Tonny menjelaskan bahwa penelitian tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap fenomena paradoks yang dialami Kopi Bajawa. Meski telah dikenal luas di pasar nasional maupun internasional sebagai salah satu kopi spesialti unggulan Indonesia dengan cita rasa khas dan nilai ekonomi tinggi, produksi Kopi Bajawa justru terus mengalami penurunan.
Menurut Tonny, berbagai upaya peningkatan produksi yang selama ini dilakukan belum mampu menyelesaikan akar persoalan karena lebih berorientasi pada solusi jangka pendek.
“Pendekatan perbaikan produksi kopi yang sudah dilakukan terjebak pada upaya perbaikan jangka pendek tanpa mengatasi akar masalah secara sistemik, yang merupakan akar kegagalan struktural,” ujar Tonny Djogo.
Ia menilai bahwa perbaikan teknik budidaya maupun penguatan kelembagaan, seperti pembentukan koperasi dan pengembangan UMKM, hanya memberikan dampak sementara. Begitu pula berbagai intervensi di sektor pemasaran yang belum mampu meningkatkan luas areal tanam maupun kesejahteraan petani kopi secara berkelanjutan.
Tonny menegaskan, persoalan utama pengembangan Kopi Bajawa bukan hanya berada pada aspek budidaya, melainkan juga lemahnya integrasi antara kebijakan, kelembagaan, dan sistem pemasaran.
Menurutnya, hingga saat ini belum tersedia peta jalan (roadmap) maupun grand design pengembangan Kopi Bajawa yang mampu menjadi acuan bersama, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
“Kendalanya adalah belum adanya rencana yang terpadu. Intervensi yang dilakukan selama ini terpisah atau tidak terintegrasi antara budidaya, kelembagaan, kebijakan, dan pasar,” tegasnya.
Dalam disertasinya, Tonny memperkenalkan model analisis yang disebut “perangkap kelembagaan kebijakan pasar” untuk menjelaskan penyebab utama stagnasi produksi Kopi Arabika Flores Bajawa.
Model tersebut menggambarkan bagaimana lemahnya kelembagaan lokal mengurangi efektivitas kebijakan pemerintah. Di sisi lain, kebijakan yang bersifat parsial tidak mampu memperkuat organisasi petani maupun sistem budidaya, sementara struktur pasar yang tidak seimbang semakin memperlemah posisi tawar petani.
Akibatnya, terjadi siklus negatif yang mendorong alih fungsi lahan, menurunkan produktivitas, dan pada akhirnya mengancam keberlanjutan produksi Kopi Bajawa.
“Kelembagaan lokal yang lemah mengurangi efektivitas kebijakan; kebijakan yang parsial gagal memperkuat organisasi lokal dan budidaya; serta struktur pasar yang asimetris memperlemah produksi dan posisi tawar petani. Siklus interaksi negatif ini memicu alih fungsi lahan dan penurunan produksi secara berkelanjutan,” paparnya.
Di penghujung orasi ilmiahnya, Tonny Djogo menyampaikan rasa syukur dan penghargaan kepada seluruh promotor, ko-promotor, dewan penguji, serta Program Doktor Fakultas Interdisiplin UKSW yang telah mendampingi proses akademiknya hingga meraih gelar doktor.
Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Dr. Viktor Bungtilu Laiskodat dan Dr. Josef A. Nae Soi, yang menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2018–2023, atas dukungan pribadi yang diberikan selama proses studi dan penelitian.
Menurut Tonny, dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan penelitian mengenai pengembangan Kopi Bajawa dapat diselesaikan secara komprehensif.
Orasi ilmiah tersebut turut dihadiri oleh Dr. Josef A. Nae Soi bersama istri, Maria Fransiska Jogho, serta keluarga, sahabat, akademisi, dan para kerabat yang memberikan dukungan kepada Tonny Djogo dalam momen bersejarah tersebut.






