Kampiunnews|Kupang – Langkah besar diambil PSSI dalam membangun masa depan sepak bola Indonesia. Salah satu kejutan datang dari wilayah perbatasan, ketika nama Berth Pentury atau yang akrab disapa Opa Berth resmi masuk dalam tim scouting regional nasional.
Pemanggilan ini bukan tanpa alasan. Hampir dua dekade lamanya, pelatih berpaspor Belanda ini mengabdikan diri di Bintang Timur Atambua, klub sekaligus Sekolah Sepak Bola (SSB) entitas sepak bola yang digagas Fary Djemy Francis yang berbasis di Kota Atambua, Nusa Tenggara Timur, wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
Dari daerah yang jauh dari sorotan, Opa Berth justru berhasil mencetak banyak talenta muda yang kini meramaikan kompetisi sepak bola nasional. Di bawah sentuhannya, Bintang Timur Atambua dikenal sebagai salah satu “pabrik pemain” dari Indonesia Timur.
Dengan gaya melatih yang tegas dan disiplin tinggi, Opa Berth menanamkan prinsip sederhana namun kuat: tidak ada pemain bintang, tidak ada pemain titipan. Semua harus bekerja keras untuk mendapatkan tempat.
Pengalamannya membina pemain usia dini di tengah keterbatasan justru menjadi nilai lebih. Ia membuktikan bahwa kualitas pemain tidak ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh konsistensi pembinaan.
Kini, dedikasi tersebut berbuah manis. PSSI mempercayainya menjadi bagian dari tim pencari bakat nasional yang akan memperkuat fondasi sepak bola Indonesia menuju Piala Dunia 2030. Opa Berth dijadwalkan mengikuti pelatihan bersama perwakilan FIFA di Bandung pada 23–26 April.
Di balik kabar membanggakan ini, terselip rasa haru dari internal klub. CEO Bintang Timur Atambua, Serena Cosgrova Francis, mengaku bangga sekaligus berat melepas sosok yang selama ini menjadi pilar pembinaan. Meskipun hanya untuk beberapa saat, namun kepergian Berth Pentury sangat dinantikan BeTA. Saat ini Opa Berth harus berbagi waktu dengan PSSI, namun pelatih asal Belanda itu masih sebagai advisor di BeTA .
“Demi kepentingan nasional kami harus ikhlas, meskipun sementara namun berat. Opa Berth bukan hanya pelatih, tapi mentor dan figur ayah bagi anak-anak di akademi,” ungkap Serena yang juga Wakil Wali Kota Kupang.
Ia menambahkan, Opa Berth juga memiliki peran penting dalam pengembangan beberapa akademi lain, termasuk Bintang Timur Bajawa, Flores dan BeTA Tunas Muda Academy yang tengah dibangun di Kota Kupang.
“Kehilangan tentu ada, tapi ini kebanggaan besar bagi kami. Ini bukti bahwa kerja keras dari daerah perbatasan bisa mendapat pengakuan nasional,” tegasnya.
Sementara itu, pelatih SSB Tunas Muda dan BeTA Tunas Muda Academy Kupang, Anton Kia, turut memberikan kesan mendalam terhadap sosok Berth Pentury. Menurutnya, Opa Berth adalah pelatih dengan karakter kuat dan standar tinggi dalam membina pemain.
“Dengan pengalaman panjang, kedisiplinan tinggi, serta kemampuan komunikasi yang baik termasuk kefasihannya berbahasa Indonesia, pelatih berlisensi UEFA Pro ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan dalam menjaring talenta-talenta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Anton.
Meski baru bekerja sama dalam waktu relatif singkat, Anton mengaku telah banyak menyerap ilmu kepelatihan dari Opa Berth, terutama dalam hal pendekatan terhadap pemain muda dan pembentukan karakter di dalam maupun luar lapangan.
“Banyak hal yang saya pelajari, terutama soal disiplin, cara membangun mental pemain, dan bagaimana memperlakukan semua pemain secara adil. Itu yang paling berkesan,” tambahnya.
Penunjukan ini menjadi sinyal kuat bahwa PSSI mulai melirik potensi besar dari daerah-daerah yang selama ini kurang terekspos. Sosok seperti Opa Berth menjadi bukti bahwa talenta hebat bisa lahir dari mana saja bahkan dari perbatasan negeri.
Kini, dari lapangan sederhana di Atambua, langkah Opa Berth berlanjut ke panggung yang lebih besar: memburu bintang masa depan Indonesia.






