Kampiunnews|Jakarta – Penguatan toleransi, kerukunan antarumat beragama, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah kebinekaan Indonesia. Dialog lintas agama dan keterlibatan tokoh keagamaan dinilai strategis untuk memperkuat nilai saling menghormati serta membangun kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.
Wakil Ketua Umum Bidang Kerja Sama Lintas Agama Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA), Faanhakhododo Maruhawa, menilai pertemuan pemerintah dengan pemimpin gereja dan tokoh agama merupakan momentum penting untuk memperkuat moderasi beragama serta merawat persaudaraan di tengah perbedaan keyakinan.
“Kerukunan antarumat beragama harus terus dirawat melalui dialog, sikap saling menghormati, dan kerja sama nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah kebinekaan Indonesia, perbedaan agama bukan penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan untuk membangun bangsa yang damai dan saling mendukung,” ujar Faanhakhododo.
Pernyataan tersebut sejalan dengan audiensi Wakil Presiden Gibran Rakabuming bersama pengurus Majelis Pekerja Sinode Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB) di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum Majelis Pekerja Sinode GKSB, Pendeta Mardi Tamandalan, menyampaikan undangan kepada Wapres untuk menghadiri peringatan satu abad Injil masuk Tanah Kalumpang, Sulawesi Barat.
Mardi berharap kehadiran Wapres dapat memperkuat pesan moderasi beragama sekaligus mendorong kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Dua agenda yang diharapkan dapat dilakukan Gibran adalah menyampaikan pidato tentang moderasi beragama dan menanam pohon.
Menurut Mardi, kegiatan penanaman pohon sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan, terutama menghadapi kekeringan dan musim kemarau berkepanjangan akibat fenomena El Niño yang berdampak pada kelestarian hutan. GKSB sendiri memiliki program penanaman pohon buah-buahan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan.
Faanhakhododo menegaskan, semangat toleransi perlu diwujudkan melalui tindakan konkret, termasuk kolaborasi lintas agama dalam kegiatan sosial, pelestarian alam, dan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang keyakinan.
“Kerukunan tidak cukup hanya menjadi slogan. Nilai toleransi harus hadir dalam tindakan sehari-hari, termasuk gotong royong menjaga lingkungan, membantu masyarakat yang membutuhkan, dan membangun ruang dialog yang terbuka bagi semua umat beragama,” tambahnya.
Menutup pertemuan, Mardi menyampaikan apresiasi kepada Wapres atas kesediaannya menerima perwakilan GKSB. Ia juga menyampaikan doa agar bangsa Indonesia dan Wapres senantiasa memperoleh hikmat serta kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai tantangan nasional.
Melalui momentum peringatan satu abad Injil masuk Tanah Kalumpang, diharapkan semangat persaudaraan, moderasi beragama, dan kepedulian terhadap lingkungan semakin menguat. Kolaborasi pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan serta mewujudkan Indonesia yang damai, toleran, dan berkelanjutan.







