Pengkhotbah 7:1
“Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.”(Pengkhotbah 7:1)
Kampiunnews I Jakarta- Kabar duka menyelimuti segenap karyawan kampiunnews. Ibunda Frans Xaverius Watu Pimpinan Umum kampiunnews, Yustina Watu Medi, (80) meninggal dunia karena sakit di Kupang, Senin, 3 Juli 2023.
Sepanjang ziarah hidupnya, Yustina Watu Medi lahir di Pohon Sirih, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 22 Mei 1943 dikenal sebagai sosok yang tekun dalam doa. Ia juga figur yang mengagumkan di mata keluarga.
Frans Watu mengisahkan semasa hidupnya mama Yustina, aktif di Legio Maria Ratu Surga, Koor Kelompok, Ketua KUB saat itu di Kelapa Lima hanya ada 2 KUB (Kelompok Umat Basis). Rutinitas kerohanian ini menanamkan benih cinta yang ditaburkan kepada siapa pun.
“Mama Yust bagi kami anak-anak adalah sosok yang tekun berdoa terlebih devosi terhadap Bunda Maria,”kenang Frans, melalui SMS Watsapp, Senin (3/7).
Almarhumah merupakan anak ke-3 dari Lazarus Medi (Rote) dan Monika Diaz Gonsales (Larantuka). Dipersunting Yosef Watu lelaki asal desa Rakalaba, Mangulewa, Ngada, NTT. Pasangan ini dikaruniai 8 putra-putri, 27 orang cucu dan 5 orang cicit. Sang suami yang merupakan seorang purnawirawan TNI (AD) di Korem Wira Sakti Kupang, telah lebih dahulu menghadap sang Khalik 11 tahun silam tepat 12 April 2012.

Menurut Frans Watu orangtuanya termasuk kelompok kecil, yang membangun Kelompok Umat Basis (KUB) katolik di Kelapa Lima. Cinta yang bersemayam dalam membangun relasi sosial bagaikan mawar mewangi sepanjang masa. Di mata tetangga, keluarga Yosef Watu dikenal ramah.
Salah satu yang dikenang warga adalah kehadiran Kapel. Dalam rekam jejak sebagaimana dituturkan kembali para sesepuh, Hendrikus Lanang, Lazarus Leonama, Alo Suluh, Abraham Eklemes, mendiang Yosef Watu, dan Yustina Watu Medi, lebih banyak berkontribusi atas pembangunan rumah ibadah bagi umat Katolik di Kelapa Lima, Kupang.
Sosok pekerja keras
Memiliki suami seorang tentara, tidak serta merta membuat Yustina Watu berpuas diri pada realitas hidup yang bisa dibilang cukup lantaran sebagai keluarga besar (ABRI) sekarang TNI, sebagian beban ditanggung negara. Untuk menopang penghasilan suaminya, Yustina Watu membuka usaha sendiri di rumah (home industri). Usaha ini sebagai tambahan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Dulu kami sekolah dengan hasil kue olahan Mama. Jam 4.30 Mama sudah bangun dan mulai membuat adonan kue porcis, dadar, roti kukus untuk dijual. Kami yang bagian jual sebelum berangkat sekolah,” ungkap Frans.
“Mama itu orangnya cepat kasihan dengan orang. Jangankan dapat berita sedih, kabar gembira saja dia menangis. Jadi kami suka ketawa kalau bertutur dengan Mama,” tutur Frans.
Sepenggal kisah
Usai menamatkan pendidikan di lingkungan sekolah Katolik (susteran) Yustina Watu, menyelesaikan SMA di PGRI Kupang. Sekolah sambil bekerja di sebuah perusahaan asuransi di kota Kupang. Seiring perjalanan waktu Yustina Watu, disibukkan dengan mengurus cucu dan cicit hingga ajal menjemput.
Semenjak hidup Mama Yustina aktif sebagai kader Posyandu di Kelurahan Kelapa Lima dan di lingkungan umat Katolik Kelapa Lima, Mama Yustina bersama mendiang osef Watu dikenal sebagai perintis pembangunan Kapela Kelapa Lima bersama sejumlah tokoh katolik Kelapa Lima seperti Hendrikus Lanang, Lazarus Leonama dan Abraham Eklemes .






