Kampiunnews | Marowali – Dermaga yang terbentang di Pelabuhan Bungku, Kabupaten Morowali, Sulteng, sebulan terakhir ini sudah mulai tampak ramai dengan adanya KMP Sabuk Nusantara 50. Kehadiran kapal berkapasitas 200 an penumpang tersebut merupakan oase di tengah penantian panjang.
Kepala Syahbandar Bungku, Dr Andi Abbas, SH, MH, M. Si mengatakan Pelabuhan Bungku sebelumnya ramai dikunjungi kapal-kapal dari berbagai wilayah. Namun seiring dengan perbaikan fasilitas pelabuhan, adanya pelebaran darmaga, aktivitas pelabuhan untuk sementara dihentikan.
“Ya sekitar satu tahun lebih tidak ada aktivitas kapal ke sini,” kata lulusan Doktor FH UMI Makassar, Selasa (21/5).
Sebelumnya, Pelabuhan Bungku banyak disinggahi kapal-kapal komersial. Selain kapal penumpang ada juga kapal yang khusus mengangkut semen dan material lainnya.
Pantauan di lokasi, KMP Sabuk Nusantara 50 tiba di pelabuhan sekitar pukul 16. 30 wst. Puluhan calon penumpang yang telah menunggu, satu persatu naik ke atas kapal menggunakan sebuah tangga besi yang dirancang khusus untuk naik – turunnya penumpang. Di dermaga terdapat barang bawaan penumpang yang cukup banyak membuat kesibukan di dermaga bertambah. Ada yang sibuk menaikkan dua unit motor, menggunakan katrol.
Kapadatan manusia yang berjejar di dermaga, membuat alam sekitarnya menggairahkan. Geliat calon penumpang maupun pengantar, bertahan di dermaga menunggu kapal lepas pantai.
Capt KMP Sabu Nusantara, Muslih mengatakan menempuh perjalanan dari Pelabuhan Kolonodale, pada Selasa siang. Ditambah pelayaran kali ini sedikit terkendala lantaran cuaca kurang bagus. “Harusnya tiba di Bungku lebih awal namun karena cuaca kurang bagus sehingga baru bisa sandar,” katanya.
Menurutnya route ke Bungku masih
dalam masa uji coba dan belum ada penetapan jadwal tetap dari pihak otoritas. Masih kata Muslih, sambil menunggu jadwal resmi, setiap dua minggu, sekali KMP Sabuk Nusantara, menyinggahi Pelabuhan Bungku.
“Ini masih uji coba. Belum ada jadwal tetap dari otoritas Pelabuhan. Bilamana sudah ada, baru diketahui jadwal kedatangan kapal ke sini,”ungkap Muslih.
Seorang penumpang, Fauzan (27) mengaku senang dengan adanya kapal Sabuk Nusantara. Lulusan SMA 1 Bungku yang kin bekerja di Menui Morowali mengaku selama ini untuk pulang ke Bungku ia menumpang kapal kayu dengan durasi perjalanan laut berkisar antara 9-10 jam. “Kalau cuaca kurang bagus, bisa sampai 12 jam,” katanya.
Mengenai perbandingan biaya, Fauzan menjelaskan selama menggunakan kapal kayu ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp 180 ribu. Sementara untuk kapal Sabuk Nusantara, ia hanya membayar ongkos tiket sebesar Rp 35.000.
“Saya berharap ada kapal cepat semacam speedboat seperti di Kendari,” harap Fauzan.
Informasi yang diperoleh, harga tiket KMP Sabuk Nusantara 50 terendah Rp 35 ribu, paling mahal Rp 125 ribu. Kategorinya Rp 35 ribu kelas ekonomi, sementara Rp 122 ribu harga VIP.
Dalam sebulan ini KMP Sabuk Nusantara 50 sudah tiga kali berlabuh di Pelabuhan Bungku. Sesuai jadwal, Kamis depan akan tiba kembali ke Pelabuhan Bungku. Kapal ini juga termasuk salah satu kapal tol laut yang digagas pemerintah untuk merekatkan dan melancarkan moda transportasi laut.
KMP Sabuk Nusantara 50 dilengkapi fasilitas berupa kamar tidur standar ekonomi dan kamar tidur kelas bisnis atau VIP melakukan uji coba perdana pada Jumat 10 Mei 2024. Sejak itu hingga kini rutin melayani penumpang dari Pelabuhan Menui, Kolonodale (Kodal) ke Bungku, Sulteng dan sekitarnya dengan harga tiket murah.






