Kampiunnews|Jakarta – Kabar duka menyelimuti keluarga besar penyanyi pop lawas Indonesia, Soraya Pingkan Aurelio Togas. Penyanyi kelahiran Manado, Sulawesi Utara, tersebut mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 21.20 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta Pusat, dalam usia 61 tahun.
Kepergian Soraya Togas, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, kerabat, sahabat, serta para pencinta musik yang mengenal suara dan karya-karyanya sejak era 1980-an. Di tengah duka tersebut, sang adik, Lana Togas Koentjoro, Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM), menyampaikan ungkapan perpisahan melalui media sosial dengan mengutip ayat Alkitab dari Filipi 1:21.
“Bagiku, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Kalimat singkat tersebut menjadi ungkapan iman dan pengharapan Lana dalam melepas kepergian sang kakak untuk selamanya, sekaligus menggambarkan keteguhan hati keluarga dalam menghadapi kehilangan orang terkasih.
Kabar kepergian Soraya disampaikan sang adik Lana, melalui pesan yang beredar pada Sabtu malam, disertai permohonan doa bagi keluarga yang ditinggalkan agar memperoleh kekuatan, ketabahan, dan penghiburan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Di rumah sakit, sang suami, Ps. Bernard Aurelio, tampak mendampingi jenazah Soraya bersama anggota keluarga lainnya. Sejumlah kerabat dan sahabat turut hadir memberikan penghormatan terakhir, di antaranya Lydia Kandou, Victor Hutabarat, Minggus Tahitoe serta sejumlah tokoh yang memiliki kedekatan dengan keluarga.
Jejak Karya Soraya Togas di Musik Indonesia
Soraya Togas dikenal sebagai salah satu penyanyi yang mewarnai perjalanan musik pop Indonesia pada era 1980-an. Dengan karakter vokal yang khas, ia membawakan sejumlah lagu yang lekat dalam ingatan para pencinta musik lawas.
Beberapa lagu yang pernah dibawakannya antara lain Hanya Pada-Mu, Oh Melati, Ayah, Rindu, Benci Tapi Rindu, Hidupku Selalu Berseri, dan Sayang Oh Sayang. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari perjalanan kariernya sekaligus meninggalkan kenangan bagi pendengar lintas generasi.
Lahir di Manado pada 5 Januari 1965, Soraya tidak hanya dikenal melalui kiprahnya di dunia tarik suara. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, pariwisata, lingkungan hidup, serta organisasi kebudayaan.
Menjelang akhir hayatnya, Soraya tercatat mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Kebudayaan Pengurus Pusat GEKIRA (Gerakan Kristiani Indonesia Raya), organisasi sayap Partai Gerindra.
Ketua Umum GEKIRA, Nikson Silalahi, turut mengenang Soraya sebagai sosok yang tidak hanya memiliki talenta bersuara emas, tetapi juga memberikan kontribusi dalam kehidupan organisasi.
Sebagai Ketua Bidang Kebudayaan PP GEKIRA, Soraya memiliki peran yang dekat dengan kegiatan kebudayaan dan pelayanan kerohanian organisasi. Suara merdunya kerap mengiringi ibadah dilingkungan GEKIRA, menghadirkan suasana khidmat sekaligus mempererat kebersamaan di antara para anggota.
Bagi keluarga besar GEKIRA, kepergian Soraya menjadi kehilangan tersendiri. Sosoknya akan dikenang melalui talenta dan keramahan yang dibagikan, keterlibatannya dalam kegiatan organisasi, serta pengabdiannya dalam mendukung kehidupan kerohanian dan kebudayaan.
“Suara yang dahulu mengiringi lagu-lagu kenangan dan ibadah bulanan GEKIRA kini tinggal dalam ingatan. Namun, karya, pengabdian, dan kebersamaan yang pernah dibangunnya akan tetap menjadi bagian dari kenangan orang-orang yang mengenalnya,” timpal Eva F. Pendong.
Soraya juga tercatat sebagai anggota Dewan Pengawas Perempuan Indonesia Maju (PIM), organisasi perempuan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan telah mengembangkan jaringan kepengurusan di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Dalam organisasi tersebut, Soraya menjadi bagian dari lingkungan tokoh yang mendukung upaya pemberdayaan perempuan dan penguatan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebelumnya, Soraya juga pernah mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Partai Perindo untuk daerah pemilihan Sulawesi Utara.
Kepergian Soraya Togas bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga, tetapi juga menutup satu babak perjalanan seorang seniman yang pernah mewarnai musik pop Indonesia. Karya-karyanya akan tetap menjadi bagian dari kenangan para pencinta musik, sementara doa dan ungkapan kasih keluarga menjadi pengiring perjalanannya menuju keabadian.
Selamat jalan, Soraya Togas. Kiranya damai dan kasih Tuhan menyertai, serta memberikan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.







