Kampiunnews|Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan transformasi PT PLN (Persero) untuk memperkuat efisiensi perusahaan, meningkatkan produktivitas, dan mempercepat transisi energi nasional. Salah satu agenda utama yang menjadi perhatian pemerintah adalah akselerasi penggunaan panel surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), sebagai bagian dari pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.
Arahan tersebut disampaikan Prabowo dalam pertemuan bersama Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, serta Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Suroso Isnandar di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Usai pertemuan, Rosan menjelaskan bahwa Presiden meminta transformasi PLN dilakukan secara menyeluruh, mencakup pembenahan model bisnis, peningkatan kinerja perusahaan, hingga percepatan pemanfaatan energi surya.
“Kita membicarakan bagaimana pertama mengakselerasi transformasi di PLN untuk menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih tanggap, dan juga mengakselerasi penggunaan 100 GW solar panel,” ujar Rosan kepada awak media.
Menurut Rosan, pembenahan model bisnis menjadi salah satu prioritas agar PLN mampu beroperasi lebih efisien dan produktif. Rancangan transformasi tersebut diminta segera disusun dan dipaparkan kepada Presiden untuk menjadi dasar tindak lanjut kebijakan.
“Kita juga diminta oleh Bapak Presiden agar transformasi di PLN ini baik terutama dari segi bisnis modelnya itu untuk dibuat dan untuk segera dipaparkan kepada beliau, untuk segera kita tindaklanjuti,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, Danantara akan berkoordinasi dengan jajaran PLN untuk melakukan kajian menyeluruh terhadap operasional dan model bisnis perusahaan. Evaluasi tersebut diharapkan dapat memperbaiki efisiensi pengelolaan, meningkatkan produktivitas, serta membantu mengurangi beban subsidi di sektor kelistrikan.
“Nanti kami dari Danantara tentunya akan duduk dengan tim dari PLN agar transformasi ini bisa dilakukan secara menyeluruh, sehingga ini juga bisa mengurangi subsidi atau dalam rangka meningkatkan efisiensi dan juga produktivitas di PLN,” jelas Rosan.
Ia menambahkan, evaluasi model bisnis diperlukan untuk memastikan pengelolaan perusahaan semakin tepat sasaran dan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Pemerintah akan meninjau kembali berbagai aspek operasional sebelum menyampaikan usulan transformasi kepada Presiden.
“Kita akan revisit lagi, kita akan lihat lagi mengenai bisnis modelnya, bagaimana ini lebih tepatnya agar lebih efisien, lebih baik dan juga berdampak positif terhadap perekonomian kita secara keseluruhan,” katanya.
Selain transformasi bisnis dan pengembangan energi surya, pemerintah juga menaruh perhatian pada kesiapsiagaan PLN dalam menghadapi kondisi darurat. Perusahaan kelistrikan nasional tersebut didorong menyempurnakan rencana cadangan (backup plan) guna menjaga keandalan pasokan listrik ketika terjadi gangguan atau situasi krisis.
Rosan menyebut PLN telah memiliki mekanisme antisipasi, tetapi langkah tersebut masih perlu dievaluasi dan disempurnakan agar lebih efektif dalam menghadapi berbagai kemungkinan gangguan.
“Pasti sudah ada tapi yang itu perlu disempurnakan lah,” tegasnya.
Transformasi PLN dan percepatan pemanfaatan panel surya 100 GW menjadi bagian penting dari agenda penguatan sektor energi nasional. Pelaksanaannya akan membutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi antarlembaga, serta kesiapan infrastruktur agar peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dapat berjalan seiring dengan efisiensi perusahaan dan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat maupun dunia usaha.







