Kampiunnews|Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik. Meski tingkat pengenalan masyarakat terhadap program ini sangat tinggi, hasil survei terbaru menunjukkan mayoritas masyarakat menilai pelaksanaannya masih belum memenuhi harapan.
Berdasarkan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Program Khusus Presiden: MBG dan KDMP” yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026, sebanyak 61,6 persen masyarakat Indonesia mengaku kurang puas atau bahkan tidak puas sama sekali terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hasil survei tersebut dipaparkan oleh Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, melalui kanal YouTube SMRC TV pada Selasa (28/7/2026).
Survei menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Program MBG telah mencapai 95,4 persen, sementara hanya 4,6 persen responden yang mengaku belum mengetahui program tersebut.
Namun, tingginya tingkat awareness belum sejalan dengan tingkat kepuasan masyarakat. Dari responden yang mengetahui program tersebut, hanya 6,2 persen yang menyatakan sangat puas, 27,6 persen cukup puas, 31 persen kurang puas, dan 30,6 persen mengaku tidak puas sama sekali. Sementara 4,6 persen lainnya tidak memberikan jawaban.
“Sebanyak 61,6 persen publik nasional merasa kurang atau tidak puas sama sekali terhadap pelaksanaan Program MBG, sedangkan yang merasa sangat atau cukup puas hanya 33,8 persen,” ujar Deni Irvani dalam pemaparannya.
Program Strategis untuk Perbaikan Gizi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Program ini diharapkan mampu menekan angka stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menggerakkan perekonomian daerah melalui pelibatan UMKM, petani, peternak, serta pelaku usaha pangan lokal sebagai pemasok bahan makanan.
Dalam pelaksanaannya di berbagai daerah, MBG telah menjangkau ribuan sekolah dan satuan pelayanan gizi. Banyak siswa dan orang tua menyambut baik keberadaan program ini karena membantu memenuhi kebutuhan gizi anak serta mengurangi beban pengeluaran keluarga untuk konsumsi harian.
Meski manfaat program mulai dirasakan, masyarakat juga menyampaikan sejumlah masukan terhadap pelaksanaan MBG di lapangan. Beberapa warga menilai kualitas menu makanan cukup baik dan bervariasi, namun distribusi di sejumlah wilayah masih belum merata. Ada pula yang berharap ketepatan waktu pengiriman makanan dapat ditingkatkan agar tidak mengganggu jadwal belajar siswa.
Sebagian masyarakat juga menginginkan pengawasan yang lebih ketat terhadap kualitas bahan makanan, kebersihan proses penyajian, serta transparansi pelaksanaan program agar manfaatnya benar-benar dirasakan seluruh penerima.
Di sisi lain, sejumlah orang tua mengapresiasi keberadaan MBG karena membantu anak-anak memperoleh makanan bergizi secara rutin di sekolah. Mereka berharap pemerintah terus melakukan evaluasi sehingga kualitas pelayanan semakin meningkat dan cakupan penerima manfaat semakin luas.
SMRC mencatat tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan MBG mengalami penurunan dalam sembilan bulan terakhir.
Pada November 2025, tingkat kepuasan masih berada di angka 62,5 persen. Angka tersebut turun menjadi 53,1 persen pada survei Februari–Maret 2026, kemudian kembali merosot menjadi hanya 33,8 persen pada Juli 2026.
Sebaliknya, tingkat ketidakpuasan meningkat cukup tajam. Jika pada November 2025 hanya 33,9 persen responden yang mengaku kurang atau tidak puas, angkanya naik menjadi 44,6 persen pada Februari–Maret 2026 dan mencapai 61,6 persen pada Juli 2026.
Menurut Deni Irvani, meningkatnya penilaian negatif masyarakat terhadap pelaksanaan Program MBG menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto.
Survei SMRC melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak dari warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih.
Sebanyak 83,8 persen responden diwawancarai melalui sambungan telepon, sedangkan 16,2 persen diwawancarai secara tatap muka bagi mereka yang tidak memiliki akses telepon. Komposisi tersebut disesuaikan dengan proporsi penggunaan telepon seluler di Indonesia.
Survei dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026 dengan margin of error ±3,7 persen, sehingga perbedaan hasil dinyatakan signifikan apabila mencapai sedikitnya 7,4 persen.






