Kampiunnews|Ngada – Di sebuah desa sunyi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemiskinan struktural meninggalkan luka mendalam. Seorang anak SD berusia 10 tahun harus mengakhiri hidupnya setelah diliputi keputusasaan karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah. Tragedi ini bukan hanya kisah duka, tetapi potret rapuhnya akses dasar pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Korban yang masih duduk di bangku kelas IV SD itu diketahui tinggal berpindah antara rumah ibu dan neneknya. Malam sebelum kejadian, ia meminta uang kepada sang ibu untuk membeli alat tulis. Permintaan sederhana itu tak mampu dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Harapan kecil seorang anak untuk belajar berubah menjadi kesedihan yang berujung tragedi.
Peristiwa pilu ini memicu keprihatinan luas. Presiden Prabowo Subianto memberikan atensi khusus dan menginstruksikan jajaran terkait untuk segera mengambil langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terulang.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden meminta pemerintah pusat memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga, khususnya dalam perlindungan keluarga rentan dan pencegahan kemiskinan ekstrem. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Sosial untuk penanganan keluarga korban.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan kekecewaan keras terhadap lambannya respons Pemerintah Kabupaten Ngada dalam menyikapi peristiwa duka tersebut.
“Ini pas Pak Sekda Ngada ada. Tadi malam saya cek terakhir, belum ada perwakilan resmi Pemerintah Kabupaten Ngada yang datang ke rumah keluarga yang berduka. Ini tidak boleh terjadi,” tegas Melki dengan nada tinggi.
Ia menekankan bahwa kehadiran negara, khususnya pemerintah daerah, merupakan bentuk tanggung jawab moral dan administratif yang tidak bisa ditunda.
“Sebagai pemerintah, kita harus hadir. Kirim perwakilan secara resmi. Itu bagian dari cara kita menjaga martabat dan empati negara di tengah masyarakat,” ujarnya.
Gubernur menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi pelajaran serius tentang pentingnya kecepatan informasi, kehadiran negara, dan sistem perlindungan sosial yang benar-benar menjangkau warga paling rentan, terutama anak-anak.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga menyampaikan belasungkawa dan menekankan pentingnya pendampingan khusus bagi keluarga tidak mampu. Ia menyoroti perlunya penguatan data dan intervensi tepat sasaran agar kebutuhan dasar anak—termasuk perlengkapan sekolah—tidak lagi menjadi beban yang menghancurkan masa depan.
Tragedi di Ngada menjadi pengingat pahit bahwa kemiskinan struktural bukan sekadar angka statistik. Ia hadir dalam bentuk keterbatasan akses, sunyinya bantuan, dan kegagalan sistem yang pada akhirnya merenggut harapan seorang anak. Kejadian ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa perlindungan sosial, pendidikan, dan koordinasi pemerintahan tidak boleh terlambat—karena bagi sebagian anak, keterlambatan berarti kehilangan segalanya.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)






