Kampiunnews | Jakarta – Ketua Dewan Kehormatan Alumni Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 74 Lemhannas RI, Benyamin Patondok, meminta generasi muda tidak sekadar memahami nilai-nilai kebangsaan, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Benyamin mengatakan semangat mengisi kemerdekaan harus diwujudkan melalui perjuangan menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta menghilangkan sekat-sekat perbedaan yang dapat memicu perpecahan.
“Mari kita isi kemerdekaan ini dengan semangat perjuangan, menjahit perbedaan, menyambung perbedaan-perbedaan dan menghilangkan sekat-sekat yang ada,” kata Sekjen Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) itu kepada media, Senin (31/8/2026).
Menurut Benyamin, Indonesia memiliki kekayaan yang tidak dimiliki negara lain karena dibangun dari keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, dan daerah. Keberagaman tersebut harus dipandang sebagai kekuatan bangsa.
Ia juga menegaskan bahwa Pancasila menjadi salah satu fondasi yang mampu menyatukan berbagai perbedaan tersebut.
“Indonesia ini kaya karena kita memiliki perbedaan-perbedaan itu. Telah mampu dijahit oleh satu negara, yaitu Pancasila,” ujarnya.
Karena itu, Benyamin meminta generasi muda mengamalkan nilai-nilai Pancasila tanpa membedakan latar belakang seseorang.
Pemberantasan Korupsi Jadi Bagian Penguatan Kebangsaan
Benyamin juga menilai pemantapan nilai-nilai kebangsaan tidak bisa hanya dilakukan melalui pendidikan atau kegiatan seremonial. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat mendapatkan manfaat nyata dari pembangunan.
Salah satu persoalan yang harus menjadi perhatian adalah pemberantasan korupsi.
Menurut Waketum PP GEKIRA itu, korupsi dapat menghambat masyarakat dalam menikmati hasil pembangunan sekaligus mengganggu kepercayaan terhadap pemerintah.
“Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah memberantas korupsi supaya masyarakat bisa menikmati dan mengisi kemerdekaan ini dengan baik,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah menjalankan program yang berpihak kepada rakyat, terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan, pangan, dan energi.
Benyamin menilai ketahanan pangan dan energi harus diarahkan menjadi kedaulatan nasional agar Indonesia memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat secara mandiri.
Pendidikan Harus Beradaptasi dengan Era Digital dan AI
Benyamin juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurut dia, sistem pendidikan, termasuk kurikulum di perguruan tinggi, perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan era digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Pembinaan informal kepada masyarakat, terutama kampus-kampus, perlu diperkuat. Kurikulum itu sudah harus dirubah karena kita masuk ke era digital dan era AI,” ujarnya.
Ia menilai pendidikan tidak hanya bertugas mencetak tenaga kerja, tetapi juga harus membangun karakter dan kemampuan generasi muda agar mampu menghadapi perubahan zaman.
Koperasi Desa Jangan Sekadar Program dari Atas
Selain pendidikan, Benyamin menyoroti persoalan pengangguran dan penguatan ekonomi masyarakat desa.
Menurutnya, pengembangan ekonomi kerakyatan dan UMKM perlu diperkuat untuk membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi salah satu wadah untuk membangun ekosistem ekonomi masyarakat desa. Namun, pengelolaannya harus benar-benar melibatkan masyarakat setempat.
Benyamin mengingatkan agar koperasi tidak hanya menjadi program yang bersifat top-down atau berjalan dari atas ke bawah.
“Koperasi itu tidak bisa dipaksakan, tetapi koperasi itu tumbuh dan lahir dari kebersamaan,” katanya.
Ia menilai masyarakat desa harus mendapatkan pendampingan dalam mengelola koperasi, mulai dari pembukuan, tata kelola hingga strategi pemasaran.
Petani, peternak, pelaku UMKM, dan masyarakat lainnya juga perlu dihubungkan dalam satu ekosistem ekonomi sehingga setiap sektor dapat saling mendukung.
“Semua orang, baik petani maupun peternak, harus ada dalam satu ekosistem yang baik, ekosistem yang mampu bersinergi,” ujarnya.
Benyamin juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap pengelolaan koperasi dan program pemerintah di desa. Pengawasan diperlukan untuk memastikan anggaran digunakan sesuai tujuan dan mencegah praktik korupsi.
Alumni PPNK Diminta Berkontribusi di Berbagai Sektor
Lebih lanjut, Benyamin mengatakan alumni PPNK harus mampu menjadi agen perubahan di berbagai bidang kehidupan.
Menurutnya, alumni program kebangsaan tidak boleh berhenti pada pemahaman teori. Mereka harus membawa nilai-nilai kebangsaan ke lingkungan kerja dan masyarakat.
“Alumni-alumni PPNK ini harus menjadi agen perubahan di semua sendi pemerintahan, usaha, dan segala macam,” tuturnya.
Ia berharap alumni PPNK Angkatan 74 dapat berkontribusi di berbagai wilayah Indonesia dengan menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta mendorong pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Benyamin menegaskan semangat kebangsaan harus diwujudkan melalui kerja bersama dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat.
“Semua ini harus kita kerjakan secara bersama-sama,” pungkasnya.







