Kampiunnews | Jakarta – Dalam debat perdana yang diselenggarakan oleh KPU Kota Kupang pada Sabtu, 19 Oktober 2024, di Hotel Aston, Kelapa Lima, Kupang, lima pasangan calon (paslon) menyampaikan program-program unggulan mereka. Dalam segmen pertama dan kedua, para paslon membahas inovasi baru serta rencana untuk melanjutkan program-program yang telah berjalan di Kota Kupang.
Beberapa di antara program tersebut meliputi upaya peningkatan infrastruktur, pelayanan publik, digitalisasi layanan pemerintahan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Paslon juga menyoroti pentingnya kebersihan kota, pengelolaan sampah yang lebih baik, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan bagi warga Kupang.
Christian Widodo dan Serena Francis pasangan nomor urut 5, memulai paparan mereka dengan menyapa masyarakat melalui “salam 5 jari” atau salam Pancasila, menekankan nasionalisme dan kebersamaan. Pasangan ini sangat fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter, meyakini bahwa pendidikan dan kesehatan yang baik akan menciptakan warga yang produktif. Mereka berencana menjadikan Kupang sebagai pusat pendidikan vokasi, yang menjadi salah satu pilar program pendidikan mereka.
Christian Widodo memaparkan, di bidang kesehatan, prioritas mereka adalah memberikan beasiswa bagi siswa dari keluarga kurang mampu dan menyediakan dana kesehatan untuk pasien tidak mampu. Pasangan ini juga berkomitmen untuk meningkatkan ekonomi melalui dukungan terhadap UMKM, mengadakan pentas seni, pesta rakyat, serta memfasilitasi pameran UMKM yang dianggap sebagai motor penggerak ekonomi rakyat.
Untuk mengurangi pengangguran, pasangan milenial ini berencana membuka kembali jalur investasi dengan komitmen mempekerjakan 70% tenaga kerja lokal dari Kupang. Selain itu, pasangan ini juga menawarkan program ramah lingkungan seperti pengelolaan sampah yang efektif dan menyediakan taman baca di setiap kelurahan.
Christian dan Serena sangat menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan, yang diwujudkan melalui pembentukan pusat layanan publik (comment center) untuk melibatkan partisipasi masyarakat. Serena juga menyoroti kontribusinya dalam mendatangkan kapal Dharma Lautan dan Dharma Rucita, yang telah membantu meningkatkan mobilitas masyarakat dan menurunkan biaya distribusi barang, berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan asli daerah.
Pasangan ini juga mendukung ekonomi kreatif dan pariwisata dengan rencana pembangunan Youth Creative Hub di Kupang. Mereka menekankan pembangunan inklusif yang melibatkan penyandang disabilitas, menunjukkan keberpihakan kepada seluruh golongan tanpa diskriminasi. Selain itu, keterlibatan perempuan dalam posisi strategis pemerintahan menjadi bagian penting dari agenda mereka untuk melahirkan kebijakan yang mendukung perempuan.

Seblumnya Paslon nomor urut 1, Alexander Funay – Isyak Nuka, menekankan program kerja prioritas mereka pada peningkatan pelayanan publik dan reformasi birokrasi dengan memanfaatkan teknologi.
Ishak Nuka, menyatakan akan meningkatkan dana PEN menjadi 1 miliar per RT, memberikan tunjangan RT 1 juta per bulan, membangun 1.000 rumah untuk warga kurang mampu dalam kurun waktu lima tahun, serta menyediakan santunan duka dan layanan kubur gratis.
Paslon nomor urut 2 Yonas Salean – Sukardan Aloysius, berjanji akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan, penyediaan air bersih, dan rumah layak huni.
Yonas Salean berjanji akan meningkatkan PAD sebesar 35 miliar per tahun, memberikan dana PEN 1 miliar per kelurahan, tunjangan RT-RW, santunan duka 5 juta, serta layanan kubur gratis hingga bantuan operasional RT/RW sebesar 10 juta per tahun.
Pasangan calon nomor urut 3, George Hadjoh – Theodora Ewalda Taek, yang mengusung visi “Bersih, Inovatif, dan Sejahtera,” menawarkan program unggulan berupa layanan internet gratis, program satu guru satu laptop, serta bantuan medis hingga layanan pemakaman gratis.
Dalam penjelasan lebih lanjut, mereka memprioritaskan reformasi birokrasi dan perbaikan tata kelola pemerintahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sama seperti calon lain, pasangan ini juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai dasar pembangunan kota yang lebih baik.
Paslon Jefri Riwu Kore dan Lusia Adinda Lebu Raya memulai paparan mereka dengan menyoroti keberhasilan Jefri saat menjabat sebagai Wali Kota Kupang sebelumnya. Ia menekankan pencapaiannya dalam penataan dan penerangan jalan di kota. Namun, klaim ini justru memicu cibiran dari audiens yang hadir, menunjukkan adanya ketidakpuasan atau perbedaan pandangan publik terkait kebijakan tersebut.
Tanggapan dari masyarakat diaspora NTT di Jakarta terhadap debat calon Wali Kota Kupang mencerminkan adanya keraguan terhadap janji-janji yang disampaikan oleh para kandidat. Menurut Ebit, salah satu perwakilan diaspora, banyak janji manis yang dilontarkan selama debat dinilai sebagai upaya menarik simpati pemilih, tetapi dikhawatirkan tidak akan terealisasi. Dia menyebut bahwa dari lima pasangan calon, empat di antaranya sudah memiliki rekam jejak yang diketahui oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan skeptisisme mengenai apakah para kandidat benar-benar mampu membawa perubahan atau hanya sekadar mengulang janji-janji yang pernah disampaikan sebelumnya.
Kritik seperti ini umum muncul dalam proses politik ketika masyarakat merasa skeptis terhadap kemampuan calon untuk memenuhi janji-janji yang mereka buat, terutama jika rekam jejak mereka dinilai tidak konsisten dengan program yang dijanjikan. Bagi diaspora, yang biasanya memiliki perspektif dari luar kota, ketidakpastian ini dapat mengurangi kepercayaan pada proses pemilihan.






