Kampiunnews | Jakarta – Sampai hari ini, baru koalisi PKB, Nasdem, PKS yang sudah mendeklarasikan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Apakah Pilpres akan diikuti dua atau tiga pasang calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), belum pasti.
Ada kemungkinan diikuti oleh dua poros saja. Karena hingga kini, poros yang sudah pasti adalah Koalisi Perubahan yang mengusung pasangan Anies-Muhaimin.
Pendiri Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA, mengatakan lembaganya telah menyusun simulasi jika Pilpres hanya satu putaran dan hanya diikuti dua pasang capres, yaitu Anies rasyid Baswedan dengan wakilnya Muhaimin Iskandar melawan Prabowo Subianto dengan wakilnya Ganjar Pranowo.
Pastilah siapapun yang menang, pilpres hanya berlangsung satu putaran saja.
Dana yang begitu besar, yang diperlukan untuk putaran kedua, dapat dihemat. Begitu pula dengan tenaga, pikiran, emosi untuk putaran kedua bisa dialihkan untuk hal-hal lain. Pilpres menjadi sangat efisien.
Lalu siapakah yang menang jika hanya dua pasang capres cawapres saja? Ini survei yang baru selesai dari LSI Denny JA, September 2023.
Hasilnya: Prabowo dan Ganjar memperoleh dukungan 64,9%. Sementara Anies dan Muhaimin mendapat suara 16,6%.
Kemenangan Prabowo dan Ganjar telak, telak, dan telak sekali, dengan selisih di atas 40%. Inilah kemenangan tertinggi dalam sejarah pemilu langsung di Indonesia.
SBY pernah menang besar di pilpres 2004, 2009, tapi kemenangannya di bawah 61%. Sementara Prabowo yang berpasangan dengan Ganjar, kemenangannya di atas 62%.
Bagaimana jika dibalik? Ganjar capresnya, Prabowo cawapresnya. Mereka juga tetap menang, tapi kemenangannya di angka 60%. Sementara Anies dan Muhaimin memperoleh 20,6%.
Memang ini juga kemenangan telak. Tapi selisih kemenangannya dibawa 40%. Sementara jika Prabowo yang capres, kemenangannya selisih di atas 40%.
Namun mungkinkah Ganjar bersedia mengalah menjadi cawapres saja? Jika kalkulasinya semata-mata rasional, itu mungkin. Kemenangan Prabowo sebagai capres jauh lebih telak ketimbang kemenangan Ganjar sebagai capres.
Menurut Denny JA, pemilu presiden adalah peristiwa politik. Kalkulasinya adalah kalkulasi politik, yang berbeda cara menghitungnya.
PDIP misalnya pasti merasa partai yang terbesar. Partai ini tak ikhlas jika calonnya, kadernya, petugas partainya, hanya menjadi cawapres saja.
Apalagi Jika PDIP yakin Ganjar akan mengalahkan Prabowo di putaran kedua.
Tapi sekali lagi sebelum pendaftaran capres- cawapres ditutup (19-25 Nov), segala hal masih mungkin saja terjadi.
Ada pameo terkenal di dunia politik: kecuali mengubah lelaki menjadi perempuan dan mengubah perempuan menjadi laki-laki, politik praktis bisa mengubah apapun.
Itu juga termasuk bisa mengubah siapa pun yang akhirnya menjadi capres dan cawapres.






