“Seperti gelombang laut yang dipermainkan gravitasi bumi. Komunikasi politik juga sama. Dipermainkan oleh dominasi kepentingan. Rakyat hanyalah cawan tempat menuangkan anggur hidupnya.
Kampiunnews | Jakarta – Figur, Calon Wakil Presiden (Cawapres) sontak menjadi buah bibir. Magnet yang menyedot perhatian publik. Geliat itu terjadi setelah nama Ganjar Pranowo, resmi ditetapkan sebagai Calon Presiden oleh PDI Perjuangan.
Sejak saat itu, bursa kursi cawapres mulai ramai diperbincangkan. Siapa yang bakal ditetapkan sebagai pendamping Ganjar Pranowo terus menggelinding. Bergulir secara bebas ke mana-mana. Laksana angin yang berhembus mengibas sejumlah nama. Berderet deret. Ada Erick Tohir, Mahfud MD, Khofifah Indar Parawansa, Ridwan Kamil dan tentunya masih banyak nama lain yang masuk dalam kategori pesohor di negeri ini.
Gemuruh. Republik terguncang. Para politisi ketar-ketir. Pencapresan Gubernur Jawa Tengah itu, seperti kilat menyambar. Tengok saja situasi yang terjadi pada Koalisi Besar. Kocar-kacir, sibuk merapatkan barisan. Mereka tidak menduga PDI-P yang sebelumnya berada dalam satu frekuensi berada dalam gerbong di bawah kendali lokomotif bernama Koalisi Besar, mendadak keluar dari rel.
Kepanikan itu mirip petani yang tidak siap ketika hujan mendadak turun di luar prediksi, sementara kebun belum siap termasuk menyemaikan bibit unggul. Guncangan juga melingkupi para elit politik tempat menyemaikan kader dan calon pemimpin bangsa kelak.
Di Gerindra ada nama Prabowo Subianto. Nama ini sudah sangat familiar jauh sebelum lembaga survei. Menteri Pertahanan ini juga digadang melalui partainya sebagai kandidat terkuat. Ia dinilai oleh pendukungnya sebagai aset dan perekat yang bisa mempersatukan anak bangsa. Prabowo pemimpin visioner.
Hanya saja mantu penguasa Orde Baru ini masih sibuk melakukan safari politik ke sejumlah elit partai politik dan para purnawirawan TNI guna memantik simpati sebelum memutuskan untuk terjun ke gelanggang panggung politik (calon presiden).
Rivalnya Ganjar Pranowo dari PDI-P, atau Anies Baswedan, yang masih pagi, sudah dijagokan trio parpol, NasDem, PKS dan Demokrat. Kendati telah diajukan namanya sebagai Calon Presiden jauh sebelum Ganjar Pranowo, namun posisi mantan Gubernur DKI ini masih ambivalensi.
Dinamika di internal partai pengusungnya belum seragam dalam menentukan calon wakil presiden. AHY yang disebut-sebut sebagai calon kuat masih bias. AHY oleh sebagian pengamat politik dipandang anak kemarin sore dalam kancah pertarungan politik sekaliber Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sulung dari Presiden ke 6, SBY ini butuh waktu untuk mematangkan diri. Wajar bila belum bisa dipastikan bakal mendampingi Anies Baswedan. Pendekatan yang dibangun petinggi PKS dengan Menkopolhukam Mahfud MD, sebagai isyarat bahwa bandul politik partai pengusung Anies Baswedan belum mencapai suatu konsensus menyangkut figur calon wakil presiden.
Selama ini opini publik yang terbangun, nama AHY digadang-gadang sebagai calon kuat untuk disandingkan dengan Anies Baswedan. Namun politik selalu berubah-ubah. Bicara hitam-putih tidak selamanya konkret. Bila kepentingan belum satu arah, pasti abu-abu.
Interaksi komunikasi politik selalu dipermainkan oleh dominasi kepentingan. Sama seperti gelombang laut yang selalu dipermainkan gravitasi bumi. Lobi -lobi politik itu intriknya halus namun menghanyutkan dan bahkan juga membingungkan. Sama seperti angin sepoi-sepoi berhembus ke segala arah untuk mencari keseimbangan.
Realitas yang dihadapi publik saat ini masih sama. Menantikan figur terbaik yang bakal diusung sebagai calon presiden dan calon wakil presiden. Semuanya samar. Masih sumir. Alias tidak jelas. Terombang-ambing di atas gelombang pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban, apakah dicalonkan atau bahkan mereguk kecewa karena ditinggalkan. Merengkuh bayangan semu, pulang sambil mengelus dada tanda penyesalan tak bertepi.
Menakar siapa calon pemimpin bangsa ke depan sangat bergantung kepada kapan waktu yang tepat. Para penyair melukiskan momen itu sebagai berikut : “Kita tak pernah betul-betul merdeka. Kita selalu diperbudak. Bahkan oleh waktu”.






