Kampiunnews I Jakarta – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) gagal melewati ambang batas parlemen sehingga partai tersebut dikeluarkan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) jika Mahkamah Konstitusi (MK) menguatkan keputusan akhir hasil pemilu legislatif 2024 yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Kondisi ini tentu berbeda dengan partai berbasis agama Islam yang lain, yakni Partai Kebangkitan Bangsa yang dipimpin oleh Muhaimin Iskandar,
KPU, seperti diberitakan di artikel lain, mengumumkan hasil akhir pemilu legislatif 2024 Rabu malam (20 Maret). Berdasarkan pengumuman KPU, PKB yang dipimpin oleh Muhaimin Iskandar berhasil mempertahankan posisinya sebagai partai politik terbesar keempat di Indonesia.
PKB memperoleh 16,11 juta suara (10,62%), hampir tiga juta suara lebih banyak dibandingkan pemilu legislatif 2019.
Di lain pihakm PPP hanya memperoleh 5,87 juta suara (3,87%) dan menempati posisi kesembilan. Dengan perolehan suara tersebut, PPP gagal melewati ambang batas parlemen sebesar empat persen.
Patut dicatat bahwa baik PPP maupun PKB adalah dua partai Islam yang memiliki afiliasi kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Tanah Air. Begitu besarnya perpecahan NU antara PPP dan PKB membuat masyarakat bertanya-tanya.
Jika PPP kalah dalam gugatannya dan MK menguatkan penghitungan resmi KPU, maka ini adalah pertama kalinya dalam sejarah PPP partai tersebut dikeluarkan dari DPR. Kita tidak akan melihat PPP di DPR periode 2024-2029.
Jika PPP dikeluarkan dari DPR, hal ini tidak hanya merugikan Partai, tetapi juga Sandiaga, yang kini menjabat Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PPP.
Namun Sandi keluar dari Gerindra dan bergabung dengan PPP pada 14 Juni 2023. Saat itu, Sandi diperkirakan akan mendampingi Ganjar Pranowo, calon presiden dari koalisi pimpinan PDIP dan PPP.
Sandi pada akhirnya gagal mengamankan posisi cawapres dan bahkan tak punya peran berarti di kubu Ganjar-Mahfud. Ganjar-Mahfud dikalahkan oleh Prabowo dan pasangan tersebut berakhir di peringkat ketiga.
Kini, PPP juga gagal melewati ambang batas tersebut. Sementara itu, Prabowo memenangkan pemilu legislatif 2024 dan Gerindra masih menjadi partai terbesar ketiga di Tanah Air. Dengan hasil tersebut, Sandi bisa saja menyesali keputusannya meninggalkan Prabowo dan Gerindra.
Menariknya, Sandi baru-baru ini mengirimkan sinyal bahwa ia mungkin akan bersatu kembali dengan Prabowo dan PPP mungkin akan bergabung ke dalam koalisi Prabowo.






