Kampiunnews|Jakarta – Kebutuhan perempuan sering kali dipandang sebagai persoalan kecil, padahal memiliki dampak besar terhadap kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup. Salah satunya adalah akses terhadap pembalut, kebutuhan dasar yang masih sulit dijangkau oleh sebagian perempuan dari keluarga prasejahtera.
Persoalan tersebut menjadi perhatian serius Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, melalui Program Ina Kasih, sebuah inovasi perlindungan sosial yang menyediakan pembalut gratis bagi perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah di Kota Kupang.
Dalam sebuah perbincangan di Jakarta, Serena mengungkapkan bahwa masih banyak perempuan di Kota Kupang yang harus mengesampingkan kebutuhan kesehatan reproduksi demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
“Banyak dari mereka yang tidak bisa membeli pembalut karena lebih mengutamakan beras,” ujar Serena.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan gambaran nyata dari kemiskinan menstruasi (period poverty), yaitu situasi ketika perempuan tidak memiliki akses terhadap produk kesehatan menstruasi yang layak karena keterbatasan ekonomi.
Berdampak pada Pendidikan Anak Perempuan
Serena menuturkan, dampak kemiskinan menstruasi tidak hanya dirasakan perempuan dewasa. Banyak anak perempuan yang terpaksa tidak masuk sekolah saat mengalami menstruasi karena keluarganya tidak mampu membeli pembalut.
Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kualitas pendidikan, kepercayaan diri, hingga masa depan generasi muda perempuan apabila tidak segera ditangani melalui kebijakan yang berpihak kepada kelompok rentan.
Berangkat dari latar belakang akademiknya di bidang studi pembangunan, Serena mengaku banyak mempelajari berbagai penelitian dan praktik internasional mengenai penanganan period poverty, termasuk kebijakan yang telah diterapkan di sejumlah negara seperti India.
Dari situlah lahir gagasan Program Ina Kasih, sebuah program yang tidak hanya memberikan bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan terhadap hak kesehatan reproduksi perempuan.
Nama “Ina Kasih” memiliki makna yang sangat dekat dengan masyarakat Kota Kupang. Kata “Ina” berarti perempuan atau mama dalam bahasa lokal, sedangkan “Kasih” merepresentasikan identitas Kupang sebagai Kota Kasih, sehingga program ini membawa pesan kepedulian dan penghormatan terhadap perempuan.
Program Ina Kasih dirancang untuk membantu mengurangi pengeluaran rutin keluarga miskin ekstrem, sehingga dana yang sebelumnya digunakan membeli pembalut dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok lainnya seperti pangan, pendidikan, maupun kebutuhan rumah tangga.
Pada saat yang sama, program ini juga bertujuan meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan melalui akses terhadap produk menstruasi yang layak.
Sasaran program adalah perempuan berusia produktif, yakni 10 hingga 45 tahun, yang berasal dari keluarga dengan pendapatan di bawah Rp500.000 per bulan. Seluruh penerima manfaat terlebih dahulu melalui proses verifikasi oleh Dinas Sosial serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kupang.
Sejak diluncurkan, jumlah penerima manfaat terus bertambah, dari semula 1.275 perempuan menjadi 2.275 perempuan yang tersebar di berbagai kecamatan di Kota Kupang.
Bantuan pembalut disalurkan secara berkala selama enam bulan dan diintegrasikan dengan berbagai layanan kesehatan, termasuk vaksinasi HPV gratis sebagai upaya pencegahan kanker serviks.
Tantangan Anggaran Masih Besar
Meski mendapat respons positif dari masyarakat, Serena mengakui bahwa keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama dalam memperluas cakupan program.
Dari hasil pendataan Pemerintah Kota Kupang, terdapat sekitar 37.142 perempuan yang berpotensi menjadi sasaran Program Ina Kasih. Namun, hingga saat ini baru 2.275 orang yang dapat menerima manfaat.
Karena itu, Pemerintah Kota Kupang terus membuka peluang kolaborasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan maupun kerja sama dengan berbagai lembaga donor agar semakin banyak perempuan yang dapat memperoleh akses terhadap kebutuhan kesehatan reproduksi.
“Saya bermimpi lima atau sepuluh tahun ke depan, perempuan Kota Kupang dapat membeli kebutuhannya sendiri sekaligus tetap memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksinya,” tutur Serena.
Program Ina Kasih tidak berhenti pada pemberian bantuan pembalut. Pemerintah Kota Kupang juga menghubungkan para penerima manfaat dengan berbagai program pemberdayaan ekonomi agar mereka memiliki kesempatan meningkatkan pendapatan keluarga.
Salah satunya melalui Pasar Kreatif SABOAK, sebuah Sunday Market yang menjadi ruang promosi dan pemasaran produk lokal hasil karya pelaku UMKM, khususnya perempuan.
Melalui program tersebut, peserta memperoleh pelatihan pemasaran digital, pencatatan keuangan, pengurusan legalitas usaha, hingga akses kemitraan dengan sektor swasta.
Selain itu, Pemerintah Kota Kupang juga menjalankan berbagai program pendukung, seperti Dana Pemberdayaan Ekonomi Warga, penyelenggaraan pasar rakyat, serta pelatihan digitalisasi usaha bagi pelaku UMKM yang tersebar di enam kecamatan.
Serena menegaskan bahwa mengatasi kemiskinan menstruasi tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sesaat. Yang lebih penting adalah membangun kemandirian ekonomi perempuan agar mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar secara berkelanjutan.
Ia berharap Program Ina Kasih dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain, khususnya di kawasan Indonesia Timur, bahkan berkembang menjadi kebijakan nasional.
“Mungkin bagus kalau program ini bisa ditiru juga oleh daerah lain di Indonesia. Atau bila perlu menjadi program nasional. Kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya luar biasa,” pungkas Serena.
Melalui Program Ina Kasih, Pemerintah Kota Kupang menunjukkan bahwa pemenuhan akses terhadap pembalut bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi bagi kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, dan masa depan perempuan Indonesia. Program ini menjadi bukti bahwa kebijakan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat mampu menghadirkan perubahan besar bagi kehidupan perempuan dan keluarganya.






