Kampiunnews|Jakarta โ Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai pola baru penyebaran paham radikalisme di ruang digital yang kini semakin halus dan sulit dikenali. Jika sebelumnya propaganda ekstrem identik dengan ujaran kebencian dan ajakan kekerasan, kini kelompok radikal justru menggunakan pendekatan yang lebih personal dengan menawarkan bantuan dan harapan kesejahteraan untuk menarik simpati calon korbannya.
Peringatan tersebut disampaikan Meutya Hafid saat memberikan sambutan dalam diskusi publik dan bedah buku “Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi Hingga Manipulasi Kesadaran” di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Menurut Meutya, kelompok radikal kini memanfaatkan berbagai platform digital untuk membangun hubungan emosional dengan calon korban. Modus yang digunakan beragam, mulai dari menawarkan bantuan biaya pengobatan, melunasi utang, memberikan bantuan pribadi, hingga menjanjikan kehidupan yang lebih baik.
“Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem,” ujar Meutya.
Ia menjelaskan, pendekatan semacam ini jauh lebih berbahaya karena dilakukan secara perlahan tanpa menimbulkan kecurigaan. Korban diajak membangun hubungan yang tampak penuh kepedulian sebelum akhirnya dipengaruhi untuk menerima ideologi ekstrem.
Meutya mengungkapkan bahwa anak-anak dan kelompok rentan menjadi target utama perekrutan melalui media digital. Berbagai janji kesejahteraan digunakan untuk menarik perhatian mereka.
“Janji-janji terhadap kesejahteraan, misalnya sekolah gratis. Namun setelah sampai di sana justru diarahkan pada hal-hal yang menyimpang, bahkan dipaksa menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan awal,” katanya.
Ia menambahkan, perubahan pola penyebaran radikalisme membuat masyarakat tidak lagi bisa mengandalkan ciri-ciri lama dalam mengenali ancaman ekstremisme.
Sebagai gambaran nyata, Meutya mengungkapkan bahwa pada Mei 2026, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berhasil menggagalkan upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui sebuah platform digital.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa ruang digital masih menjadi media yang dimanfaatkan kelompok radikal untuk mencari anggota baru dengan berbagai cara yang semakin canggih dan terselubung.
Menurutnya, kondisi ini menjadi peringatan bagi orang tua, guru, dan seluruh masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas digital anak-anak.
Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme
Meutya menjelaskan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah peran algoritma media digital yang dapat memperkuat penyebaran narasi ekstrem. Sistem algoritma cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna, sehingga seseorang dapat terus menerima informasi yang memperkuat keyakinannya meskipun tidak berdasarkan fakta.
“Narasi dan algoritma ketika bersatu memunculkan sebuah ilusi sehingga fakta kemudian kalah oleh emosi dan keyakinan,” jelasnya.
Fenomena tersebut membuat proses radikalisasi berlangsung secara perlahan tanpa disadari oleh korban maupun keluarganya.
Meutya menilai perubahan perilaku anak akibat paparan konten ekstrem tidak terjadi secara instan. Prosesnya berlangsung sedikit demi sedikit hingga akhirnya hubungan anak dengan keluarga menjadi renggang.
“Sedikit demi sedikit hubungan dengan orang tua mulai menjauh. Cerita yang sebelumnya terbuka menjadi semakin sedikit, hingga akhirnya komunikasi terputus. Saat itulah kita sering terlambat menyadari bahwa telah terjadi perubahan yang serius,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan literasi digital, memperkuat komunikasi dalam keluarga, serta membangun pengawasan yang lebih baik terhadap aktivitas anak di internet.
Menurut Meutya, pencegahan radikalisme tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan penyedia platform digital agar ruang siber tetap menjadi tempat yang aman, sehat, dan produktif bagi seluruh masyarakat Indonesia.






